Mantan Wartawan Metro TV: Setnov Colek Saya Terus, Akhirnya Tabrakan…

Senin, 9 April 2018 - 23:41 WIB
Hilman menjelaskan kronologi hilangnya Setya Novanto hingga ditetapkan sebagai DPO. (Foto: Ridwan/JawaPos.com)

FAJAR.CO.ID — Mantan wartawan Metro TV, Hilman Mattauch, bersaksi dalam sidang lanjutan kasus dugaan merintangi penyidikan kasus e-KTP dengan terdakwa dokter Bimanesh Sutarjo.

Hilman mengaku menjadi sopir yang ditumpangi Setya Novanto saat mengalami kecelakaan tunggal pada tanggal Kamis, 16 November 2017.

Dalam kesaksiannya, Hilman menjelaskan kronologis saat mantan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat itu tengah menjadi incaran KPK hingga ditetapkan sebagai Daftar Pencarian Orang (DPO).

Hilman menjelaskan, pada Rabu (15/11) ketika Novanto menghilang dari rumahnya, dia ditugasi oleh kepala koordinator liputan Metro TV untuk mencari keberadaan Novanto.

Namun, hingga pukul 02.00 WIB atau Kamis dini hari, dia tak kunjung menemukan keberadaan Novanto. Padahal Hilman mengaku, sudah mengunjungi banyak tempat untuk mencari mantan Ketua Umum Partai Golkar itu.

“Tanggal 15 November saya mencari pak Setya Novanto, penugasan dari kantor untuk memwawancarai Pak Setnov, kata Hilman di Pengadilan Tipikor, Jakarta Pusat, Senin (9/4).

Menurut Hilman, saat rumah dinas Novanto yang terletak di Jalan Wijaya digeledah KPK, dia langsung mendapat penugasan oleh korlipnya tersebut.

“Waktu itu situasi ramai di rumah Pak Setnov, saya dapat telepon pas di rumah Pak Setnov, Pak Setnov nggak ada. Saya cari di Pondok Indah, Dharmawangsa, kediaman beliau, mutar-mutar. Cari Setya Novanto sendiri, saya pulang jam 2 pagi, besoknya cari lagi,” cerita Hilman.

Hilman melanjutkan pencarian pada Kamis, sekitar pukul11.00 WIB. “Pukul 11.00 WIB saya cari ke DPP Golkar di Slipi, ke Widya Chandra di rumah dinas, ke Wijaya, sambil telpon ajudan Setnov, namannya Reza Pahlevi,” ungkap Hilman.

Namun, usahanya itu tak membuahkan hasil. Barulah sekitar pukul 17.00 WIB, ajudan Setnov menjawab telepon dari Hilman dan memberitahukan keberadaan Novanto.

“Sekitar pukul 17.00 WIB, telepon saya diangkat sama ajudannya. Saya minta kasih ke Pak Setnov, karena saya mau bicara sama beliau, untuk mengklarifikasi. Pak Setnov bilang, ya sudah ke DPR aja. Saya tanya, memang bapak di mana? Dijawab di DPR. Baru saya ke DPR,” ujar Hilman.

Setelah sampai di DPR, Hilman mengaku langsung mendatangi ruang kerja Novanto di lantai 3 Gedung DPR RI.

“Pas saya masuk nggak ada siapa-siapa. Saya duduk di sofa, Pak Setnov datang. Saya ngomong yang terjadi kemarin respon publik, saya minta klarifikasi,” sebut Hilman.

Namun Novanto enggan menjawab pertanyaan mantan Ketua Koordinator Wartawan DPR RI tersebut.

“Waktu itu beliau belum berkenan. Saya ceritakan sisi buruk. Banyak orang bilang (dia) kabur, opininya. Pak kalau bisa diklarifikasi. Saya disuruh kantor ini wawancara bapak. Dia jawab, iya sih, tapi ini harus full,” kata Hilman menceritakan percakapannya dengan Novanto.

Hilman mengatakan pada saat itu, Novanto sudah berencana untuk pergi ke gedung KPK pada pukul 20.00 WIB. Namun, sebelum kesana, terlebih dahulu dia bertemu dengan Ketua Dewan Pimpinan Daerah Provinsi di Kantor DPP Golkar di Slipi.

“Akhirnya, saya tanya, mau kasih statement di mana, Pak? Dijawab, oke di Metro TV klarifikasi. Saya bilang, Ok. Setelah itu saya keluar mau telpon ke kantor,” ujar Hilman.

Sebelum berangkat ke studio Metro TV, Novanto mengeluh kepada Hilman karena ada banyak wartawan di lantai 1. Oleh karena itu, Hilman berinisiatif dan memberitahu Novanto untuk memakai mobil miliknya.

“Pak Setnov bilang, “Man di bawah banyak wartawan”. Saya bilang, kalau gitu pakai mobil saya saja Pak, yuk. Dia mau hindari wartawan, ya udah kami pakai mobil saya,” terang Hilman.

“(Dia) Turun ke bawah, saya jemput samping (gedung) Setjen, lalu berangkat ke (studio) Metro. Kami bertiga, saya di depan, Pak Setnov di kursi belakang bagian tengah, dan Reza di samping kiri saya bagian depan,” kata Hilman.

Namun, karena dalam perjalanan sering ditelepon kantor untuk segera mewawancarai Novanto, Hilman pun tak konsentrasi dalam mengemudi.

Hal itu menyebabkan mobilnya menabrak tiang lampu penerangan jalan yang mengakibatkan Novanto masuk ke Rumah Sakit Medika Permata Hijau.

“Dia (Setnov) nggak pakai seatbelt, saya dan Reza pakai. Suasana jalan lowong, di jalan kiri banyak pasir, hujan. Mobil saya pakai lampu putih, nggak begitu terang. Sampingnya ada kali, dia (Setnov) colek saya terus. Dia tepuk bahu saya, tanya, “Man, lama nggak nanti di Metro”,” ucap Hilman.

“Akhirnya, mobil menabrak pembatas jalan kanan, nabrak pohon kecil, lalu ke trotoar. Kemudian nabrak lampu penerangan jalan, dan mesin langsung mati,” tambahnya.

Usai tabrakan itu, Hilman tidak terlalu tahu dengan kondisi Novanto. Sebab, saat tabrakan, Novanto sempat berteriak kemudian menunduk.

“Pas nabrak, dia teriak “Ya Allah, Ya Tuhanku”. Saya lihat Pak Novanto, Reza marah, saya syok, Reza keluar, saya ikut keluar. Novanto dibawa Reza ke lampu merah jalan panjang dan posisinya masih tertidur nunduk,” tutup Hilman. (rdw/JPC)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.