Banyak Pelajar di Gowa Terindikasi Kurang Lancar Membaca

Jumat, 13 April 2018 - 12:49 WIB

FAJAR.CO.ID, GOWA — Sistem Kelas Tuntas Berkelanjutan (SKTB) di Kabupaten Gowa menuai sorotan. Sistem yang telah berlangsung selama tujuh tahun itu tidak mampu membebaskan anak dari lingkaran kebodohan.

Itu menyusul indikasi banyaknya siswa atau pelajar di daerah tersebut yang kurang lancar, bahkan tidak bisa membaca. Ironisnya, pelajar yang kurang lancar membaca itu berada pada jenjang SMP dan SMA.

Anggota Komisi E DPRD Sulsel, Rusni Kasman, mengungkapkan fenomena tersebut telah mencoreng dunia pendidikan. Terlebih, Kabupaten Gowa yang selama ini mengklaim pendidikan gratis dan SKTB sangat sukses.

Nyatanya, masih banyak ditemui anak didik yang malas sehingga tidak atau kurang lancar membaca, meski sudah SMP dan SMA. Padahal, sejatinya kemampuan membaca tuntas di tingkat SD.

“Banyaknya pelajar yang tidak maupun kurang lancar membaca di Gowa itu memalukan. SKTB patut dipertanyakan dan dikaji lagi. Jangan sampai sistem itu yang membuat pelajar kurang optimal. Dalam SKTB kan tidak kenal yang namanya tinggal kelas, jadi bisa saja membuat anak didik malas sehingga ya tertinggal (tidak atau kurang lancar membaca),” kata Rusni, saat dihubungi Jumat, 13 April.

Rusni mengimbuhkan perlu ada solusi atas indikasi banyaknya pelajar SMP dan SMA di Gowa yang kurang lancar membaca. Misalnya dengan melakukan kursus khusus dan pengayaan agar anak didik tidak semakin tertinggal.

Dibutuhkan pula upaya lebih giat untuk menangani anak didik yang malas. Motivasi dan semangat pelajar harus digenjot dengan berbagai upaya dan program yang lebih spesifik.

Berdasarkan penelusuran di lapangan, indikasi pelajar SMP dan SMA di Kabupaten Gowa kurang lancar membaca memang benar adanya. Rata-rata mereka adalah anak didik yang malas. Mereka jarang masuk sekolah lantaran memiliki jaminan naik kelas dengan SKTB.

Salah seorang pelajar SMP Negeri 2 Sunggiminasa di Kabupaten Gowa, MF (14 tahun), membenarkan jika masih terdapat pelajar tingkat menengah pertama yang belum fasih membaca. “Iya, ada, saya punya teman kelas, sudah kelas sembilan tapi masih belum lancar membaca. Mungkin karena dia juga malas datang ke sekolah,” ujar MF.

Selain di sekolah negeri, sekolah swasta juga tak sedikit memiliki pelajar yang belum lancar membaca. Salah satunya di Madrasah tsanawiyah (MTs) Manggarupi Gowa.

AL (13 tahun), pelajar setempat mengakui masih ada teman sekolahnya yang belum lancar membaca. “Saya tidak tahu kenapa dia belum bisa membaca, tapi di kelas memang pendiam. Malas juga masuk sekolah, biasa satu minggu tidak hadir,” sebut dia.

SKTB sendiri diperkenalkan sejak 2011. Meski begitu, landasan pelaksanaannya baru diterbitkan dua tahun berselang melalui Perda Kabupaten Gowa Nomor 1o Tahun 2013.

Setelah tujuh tahun berlangsung, dampak sistem itu terindikasi membuat kualitas pendidikan menurun, termasuk minat belajar. Apalagi pelajar yang pada dasarnya sudah malas, tidak lagi memiliki keinginan untuk rajin ke sekolah karena adanya jaminan naik kelas.

Dikonfirmasi terpisah, Kepala Sekolah SMP Negeri 2 Sunggumisa Gowa, Adri Lairing, tidak membantah jika masih ada anak didiknya yang terindikasi kurang lancar membaca. Untuk memastikannya, ia akan melakukan pengetesan. Yang mengejutkan, Adri menyebut pelajar yang kurang lancar membaca juga masih banyak ditemukan di tingkat sekolah menengah atas atau SMA di Kabupaten Gowa.

“Lebih baik (cari siswa tak lancar membaca) ke SMA saja. Karena SMA itu banyak, banyak yang dari SMP (sudah begitu),” ucap Adri saat dikonfirmasi.

Khusus di sekolahnya, Adri menjelaskan pihaknya memang tidak melakukan tes membaca saat penerimaan siswa baru. Kabar tentang masih adanya pelajar yang tak lancar membaca, Adri sudah mendapat laporan dari guru-guru.

“Baru disinyalir, belum ketemu dengan itu anak. Apakah dia malu membaca kalau banyak orang atau seperti apa. Jadi bukan tidak tahu membaca, masih disinyalir. Infonya dari gurunya,” tutur dia.

“Nanti SMA ini, harus dites untuk lancar membaca. Itu kebijakan tahun ajaran baru untuk SMA. Cari SMA, siapa tahu ada datanya, yang tidak tahu membaca. Karena ada bilang beberapa itu, hanya saya tidak tahu di SMA mana. Saya dapat info, tapi saya perlu crosscheck, kewenangan SMA kan ada di provinsi juga,” tutup Adri. (rls/fajar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *