Awalnya Cium Bau, Setelah Diperhatikan Ternyata Ada Bangkai yang Membusuk

Minggu, 15 April 2018 - 15:17 WIB

FAJAR.CO.ID, TANJUNG REDEB – Penemuan bangkai orang utan di sekitar Instalasi Pengolahan Air (IPA) Sambaliung, langsung ditangani Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Berau. Namun oleh BKSDA, bangkai orangutan tersebut langsung diserahkan kepada Centre for Orangutan Protection (COP) Borneo, Jumat (13/4).

Dijelaskan Kepala BKSDA Berau Agento Seno, penyerahan penanganan bangkai orangutan kepada COP agar secepatnya dilakukan penguburan. “Sudah kami serahkan kepada tim COP tadi pagi (kemarin, red),” singkat Agento saat ditemui Berau Post.

Linus, Staf COP Borneo, yang menerima bangkai orangutan dari BKSDA menyebut, penemuan bangkai orangutan tersebut juga menjadi jawaban atas hilangnya satu orangutan di hutan konservasi Kampung Merasa, Kecamatan Kelay, tiga pekan lalu. Sehingga diduga kuat, bangkai orangutan yang ditemukan Kamis (12/4) sore, merupakan orangutan yang hilang setelah terjadi banjir di hutan konservasi Kampung Merasa.

“Mungkin hanyut saat banjir besar yang terjadi sekitar tiga minggu lalu,” katanya. “Dan yang hilang memang satu ekor saja,” sambungnya.

Rencananya, bangkai orangutan yang ditemukan segera dikuburkan di hutan yang disebut sebagai kampusnya orangutan itu.

“Jadi tempat rehabilitasi (kampus orangutan, red) ini memang secara khusus menangani orangutan yang sakit dan mati. Tempat penguburannya pun ada sendiri,” jelasnya.

Kejadian hilangnya orangutan hingga ditemukan setelah menjadi bangkai, merupakan kejadian yang pertama selama proses konservasi ditangani pihaknya.

Kemarin diberitakan, masyarakat Kelurahan Sambaliung, digegerkan dengan temuan bangkai orangutan yang sempat dikira mayat manusia. Bangkai orangutan itu ditemukan di Instalasi Pengelolaan Air (IPA) Sambaliung, sekitar pukul 16.00 Wita kemarin (12/4).

Bangkai orangutan ditemukan pertama kali oleh Operator IPA Sambaliung, Bambang Suryanto, saat dirinya melakukan pengecekan IPA yang memang terjadwal setiap pagi dan sore.

Bambang yang sore kemarin melakukan pengecekan IPA, memang memilih masuk melalui jalan di samping pagar, bukan melalui pintu utama. Saat melintasi jalan samping IPA itulah, Bambang mencium aroma yang sangat menyengat dari Sungai Kelay yang tepat berada di sebelah IPA. “Karena ada bau itu saya melihat ke bawah air (Sungai Kelay, red). Dan baunya berasal dari benda seperti kasur yang terapung,” katanya kepada Berau Post di sekitar lokasi penemuan bangkai orangutan, Kamis (12/4).

Namun benda yang awalnya dilihatnya seperti kasur tersebut, langsung dikiranya mayat orang, karena memiliki kaki. Karena mengira mayat manusia, Bambang langsung memanggil polisi dan warga setempat untuk memastikan temuan dugaan mayat manusia itu.

“Kalau dilihat dari kondisinya, sepertinya sudah cukup lama di dalam air. Kulitnya sudah terkelupas, warnanya sudah putih pucat,” tandasnya.

Polisi yang datang langsung mengamankan lokasi penemuan dengan memasang garis polisi. Setelah mengamankan lokasi, polisi berhasil mengevakuasi temuan yang masih diduga mayat tersebut, dan langsung dilarikan ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Abdul Rivai untuk diautopsi, sekitar pukul 17.30 Wita.

Menurut Kapolsek Sambaliung Iptu Aprisakundi menjelaskan, hasil autopsi yang dilakukan tim dokter di RSUD dr Abdul Rivai, temuan tersebut bukanlah mayat manusia, melainkan bangkai orangutan. “Dilihat dari jari-jarinya, itu bukan manusia tapi orangutan. Memang kondisinya sudah betul-betul hancur,” jelasnya.

Aprisakundi belum bisa memastikan asal bangkai orangutan tersebut, namun dia menduga bangkai tersebut hanyut dan sudah terendam air selama berhari-hari.(*/oke/udi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.