Isu Perang Dunia III Menghangat: Kubu Rusia-Iran Vs AS-NATO

Senin, 16 April 2018 - 02:14 WIB
epa06494251 People walk amidst the rubble of the Russian Sukhoi Su-25 fighter jet scattered on the ground, in Ma'saran village near Saraqeb city, in Eastern Idlib countryside, Syria, 03 February 2018. According to the Syrian Observatory for Human Rights, Rebel fighters shot down the Russian warplane and captured the pilot, who was later killed after he fought the rebels. The Syrian government launched a military operation to regain control over Idlib from in December 2017 with support of Russian warplanes. EPA/ABDALLA SAAD

FAJAR.CO.ID — Perang Dunia Ketiga sepertinya sudah di depan mata. Menyusul serangan udara Amerika Serikat (AS) dan sekutu ke sejumlah lokasi yang diduga sebagai pusat senjata kimia Suriah.

Pihak Rusia dan Iran yang mendukung diktator Suriah Bashar al-Assad, mengecam serangan itu. Kedua negara telah memperingatkan konsekuensi setelah NATO mengatakan 29 negara anggota berada di belakang serangan udara di Suriah.

Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, mengatakan, serangan itu adalah ‘kejahatan’ dan menyatakan Theresa May, Donald trump, dan Emmanuel Macron adalah ‘penjahat’.

Sementara Presiden Rusia, Vladimir Putin mengatakan serangan itu adalah ‘tindakan agresi’ yang akan memiliki pengaruh ‘merusak’ pada hubungan internasional. Kedutaan Rusia di Rusia memperingatkan serangan udara ‘tidak akan dibiarkan tanpa konsekuensi’. Sedangkan Kementerian Luar Negeri Iran mengancam konsekuensi yang tidak ditentukan.

Dalam operasi gabungan pada Jumat malam, Inggris, AS, dan Prancis meluncurkan serangan udara sebagai tanggapan atas serangan senjata kimia yang ditengarai yang menewaskan hingga 75 orang tewas di Douma pekan lalu.

NATO mengatakan serangan itu mendapat dukungan besar. Sekretaris Jenderal Jens Stoltenberg mengatakan serangan itu untuk memastikan senjata kimia tidak dapat digunakan dengan impunitas.

“Sebelum serangan terjadi, sekutu NATO telah melakukan semua cara yang mungkin untuk mengatasi masalah ini melalui Dewan Keamanan PBB dengan cara diplomatik dan politik. Karena ini diblokir oleh Rusia, tidak ada alternatif lain selain bereaksi dengan cara mereka bereaksi saat ini,” katanya. (Metro/amr/fajar)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.