Kenal di Medsos, Pacaran Lima Bulan Lalu Nikah

0 Komentar

FAJAR.CO.ID, BANTAENG — Syamsuddin dan Fitrah Ayu sejatinya masihlah anak-anak. Namun, usia tak menjadi penghalang bagi mereka untuk membangun mahligai rumah tangga. Keduanya pun sepakat mengikat janji, meski masih berstatus nikah siri’ dan belum diresmikan oleh negara.

Syamsuddin, warga Desa Bonto Tiro, Kecamatan Sinoa, Bantaeng baru berusia 17 tahun. Sementara Fitrah lebih muda lagi. Remaja perempuan yang beralamat di Kelurahan Letta, Kecamatan Bantaeng itu baru menginjak usia 14 tahun.

Sesuai Undang-undang nomor 35 tahun 2014 tentang Perlindungan Anak, yang dimaksud dengan anak-anak adalah mereka dengan umur 0-18 tahun.Lalu apa yang mendorong keduanya hingga akhirnya kecil-kecil jadi pengantin?

Fitrah bersama Syamsuddin didampingi beberapa anggota keluarga lainnya, bercerita tentang kisah awal perkenalan, perjalanan cintanya, sampai pada keputusan untuk menikah. ”Awalnya ada teman yang kasih kenal saya dengan Syam,” ujar Fitrah memulai ceritanya.

Perkenalan mereka terjadi sekitar November 2017 silam pada suatu tempat di luar rumahnya. Kala itu, Fitrah meminta Syam untuk mengantar pulang ke rumahnya. Dari perkenalan singkat ini terus berlanjut hingga ke media sosial. “Saya lanjut di medsos,” tambahnya.

Syam mengaku, pada pandangan pertama, dia langsung melakukan pendekatan kepada Fitrah selama sebulan. “Satu bulan saya PDKT,” ucapnya.

Hubungan keduanya meningkat ke jalinan cinta kasih. Kedua bocah ini pun kasmaran dalam buaian asmara. Mereka pun menjalani percintaan selama lima bulan. “Lima bulan kami pacaran,” akunya.

Siapa yang mendesak agar hubungannya segera dilanjutkan ke pelaminan? Fitrah mengatakan, setelah hubungan percintaannya ketahuan, pihak keluarganya langsung mendesaknya agar menghubungi Syam untuk segera datang melamar.

Fitrah adalah anak kedua dari tiga bersaudara, buah kasih ayahnya Muh Idrus Saleh-Rahmawati. Ia sempat mengenyam pendidikan hingga kelas 8. “Saya kelas II SMP, kemudian berhenti,” tuturnya.

Dikemukakan Fitrah, ibunya meninggal dua tahun lalu. Ayahnya bekerja di luar Bantaeng sebagai wirausahawan. Kedua saudaranya, kakak dan adiknya yang semuanya perempuan, tidak serumah dengannya. Mereka diasuh oleh neneknya.

Bila Idrus Saleh berangkat bekerja, tinggallah Fitrah seorang diri hidup dalam kesepian. Bocah perempuan ini tak tahu lagi di mana langit tempatnya bernaung, dan bumi untuk berpijak. Dalam cengkeraman sepi berbalut hati yang gundah, muncullah Syam mengisi kekosongan jiwanya.

Menurut Nurlina, tante Fitrah, dia yang meminta Syam supaya segera datang melamar. Setidaknya ada dua alasan, yakni mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan. Kedua, supaya ada yang mengayomi dan melindungi Fitrah.
Fitrah sendiri menyatakan sudah siap berumah tangga. Dia mengaku takut tidur sendiri setelah kepergian ibundanya.

Syam sendiri menyatakan, akan menjadi suami yang bertanggung jawab lahir dan batin. Lelaki yang merupakan bungsu dari delapan bersaudara, mengaku sudah siap menafkahi Fitrah. “Insyaallah, saya siap menafkahinya,” katanya yakin.

Keduanya mengaku telah melangsungkan pesta perkawinan pada 1 Maret lalu. Namun, pernikahannya masih di bawah tangan. Pihak penghulu tidak berani mencatat dan menerbitkan akta nikah karena masih di bawah umur.

Baik Nurlina maupun Sannang (ibunda Syam), mengaku sudah memperoleh dispensasi dari Pengadilan Agama sebagai syarat pernikahan di bawah umur. “Sudah ada dispensasinya dan telah disetor ke KUA Kecamatan Bantaeng sebagai syarat dinikahkan secara resmi,” jelasnya.

Sekretaris Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) Bantaeng Hartuty, sangat menyayangkan terjadinya pernikahan dini ini. ”Kami proaktif mensosialisasikan UUPA (Undang-undang Perlindungan Anak). Namun masih saja terjadi pernikahan dini,” ujarnya, kemarin.

Menurut Hartuty, pihaknya telah melakukan pendekatan persuasif kepada keluarga kedua belah pihak agar menunda pernikahan tersebut sampai batas waktu yang diperbolehkan UU.

Hartuty mengatakan, peristiwa seperti ini termasuk kategori kasuistik. Untuk kasus Fitrah dan Syam, kata dia, ada alasan penting dari keluarga kedua belah pihak. “Silakan tanyakan langsung kepada keluarga kedua belah pihak,” pintanya. (wam/rus)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment