Menteri Pertanian Siapkan “Road Map” 20 Juta Hektar Lahan Kering dan Rawa untuk Pertanian

Selasa, 17 April 2018 - 08:26 WIB

FAJAR.CO.ID, BOGOR —  Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman menyiapkan 20 juta hektar lahan kering dan rawa. Itu guna sebagai solusi permanen mendukung terwujudnya ketahanan pangan nasional di Indonesia.

Lahan tersebut diyakini memiliki potensi strategis untuk dikembangkan menjadi lahan pertanian produktif sebagai sumber pertumbuhan baru produksi pertanian. Ditengah kenaikan jumlah penduduk dari tahun 2014-2018 yang mencapai 12,8 juta jiwa, Amran menyakini optimalisasi sumberdaya lahan kering dan rawa menjadi lahan pertanian, merupakan strategi kunci meningkatkan produksi pertanian dalam pemenuhan pangan penduduk Indonesia yang jumlahnya saat ini mencapai Rp265 juta dan akan terus meningkat setiap tahunnya.

“kita meletakan pondasi dari sekarang, kita siapkan untuk generasi kita kedepan, bahkan kita masih mampu menghidupi penduduk Indonesia yang nantinya bisa mencapai Rp500 juta hingga Rp1 milyar” ungkap Amran dalam rapat Rapat Koordinasi Litbang Pertanian terkait Pengembangan Lahan Kering dan Rawa di Balai Besar Sumberdaya Lahan Pertanian (BBSLP) Bogor.

Bahkan strategi pemanfaatan lahan suboptimal dianggap mampu mendukung program pengentasan kemiskinan yang menjadi program prioritas pemerintahan Jokowi – JK saat ini. “Yang bisa menyelesaikan kemiskinan Indonesia adalah pertanian, optimalisasi 20 juta Ha lahan rawa dan lahan kering juga akan berdampak kepada peningkatan pendapatan petani,” papar Amran.

Peningkatan produksi pangan nasional selama ini masih bertumpu pada lahan sawah irigasi, sedangkan lahan suboptimal seperti lahan rawa dan kering belum termanfaatkan secara maksimal. Untuk itu Amran menugaskan kepada para peneliti di Litbang Pertanian agar dalam waktu satu minggu ini membuat peta jalan optimalisasi lahan kering dan rawa sebagai acuan bersama dalam pengelolaan lahan tersebut di Indonesia.

Untuk mengoptimalkan potensi lahan kering dan rawa memerlukan inovasi tekhnologi yang spesifik, dengan memanfaatkan keunggulan komparatif suatu wilayah dan manajemen air yang tepat. Amran pun optimis target capaian produksi komoditas pangan strategis akan terwujud.

“Lahan kering itu kekurangan air sedangkan lahan rawa kelebihan air. Mentan yakin dengan pengelolaan air yang tepat maka lahan kering dan rawa yang selama ini “tidur” akan bangkit menjadi lahan produktif,”ujarnya.

Contoh yang mengembirakan datang dari Petani Desa Gunung Raja, Kabupaten Tanah Laut dengan menerapkan pola tanam “zig zag” diikuti dengan penggunaan pupuk fosfat alam. Teknologi yang tepat petani jagung diwilayah tersebut mampu memproduksi 20 ton jagung perhektar atau setara tiga kali lipat hasil rata – rata petani, cara tesebut juga diikuti diberbagai wilayah lainnya seperti Lampung dan Kalimantan Tengah.

Kepala BBSLP, Dedi Nursyamsi menambahkan bahwa total lahan rawa pasang surut yang berpotensi menjadi lahan pertanian adalah 3,5 juta hektare, sedangkan lahan rawa lebak sebesar 15 juta hektare, dan untuk lahan kering yang berpotensi untuk menjadi lahan produktif adalah 24 juta hektare, lahan tersebut tersebar di Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan dan Lampung.

“Peningkatan produksi difokuskan untuk komoditas strategis pemasok pangan seperti padi, jagung dan kedelei, juga komoditas penstabil inflasi hingga komoditas berorientasi ekspor seperti lada dan cengkeh,” tutup dedi.(rls/fajar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.