Sempat Ditolak, Pernikahan Dini di Bantaeng Tetap Bakal Digelar Karena Ini

Selasa, 17 April 2018 - 18:21 WIB

FAJAR.CO.ID, BANTAENG — Belakangan ini jagad maya dihebohkan dengan pernikahan dini sepasang kekasih di kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan. Tak segan-segan, dua siswa yang masih duduk di bangku SMP ini mendatangi Kantor Urusan Agama (KUA) setempat untuk melakukan pendaftaran nikah.

Keduanya memilih menikah muda dengan usia calon pengantin (catin) laki-laki usia 15 tahun berinisial SY dan perempuan usia 14 tahun berinisial FA. Saat tiba di KUA, mereka sempat mendapat penolakan dikarenakan usia kedua pasangan tersebut belum cukup umur.

Pihak KUA setempat sempat heran dari pengakuan siswa tersebut,”Ini pertama kalinya saya dapat ada calon pengantin muda, biasanya di atas yang dipersyaratkan,” ujar Penghulu Konfensional KUA Kecamatan Bantaeng, Syarif Hidayat via rilis, Sabtu (13/4/18) lalu.

Karena usianya yang belum memenuhi syarat itu, kata Syarif, pihak KUA setempat sempat menolak dengan mengeluarkan blanko N9 (penolakan catatan).

Lantas bagaimana dengan aturan menikah muda untuk usia muda. Sesuai dengan ketentuan Undang-Undang Nomor 1 pasal 2 ayat 2 tahun 1974 tentang perkawinan itu berbunyi: Tiap-tiap perkawinan dicatat menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Kemudian dipertegas dalam undang-undang yang sama pada pasal 7 ayat 1 yang menyatakan bahwa perkawinan hanya diizinkan bila pihak pria mencapai usia 19 tahun dan pihak wanita telah mencapai usia 16 tahun.

Namun jika masih belum cukup umur, pada pasal 7 ayat 2 menjelaskan bahwa perkawinan dapat disahkan dengan meminta dispensasi kepada pengadilan atau pejabat lain yang diminta oleh kedua orang tua pihak pria atau pihak wanita.

Dikabarkan, bahwa keterangan dari keluarga mempelai laki-laki, mengatakan bahwa keinginan ponakannya untuk menikah dini bukan karena kecelakaa, melainkan takut tidur sendiri setelah ibunya meninggal dunia, dan ayahnya juga selalu keluar kota untuk urusan pekerjaan.

“Tetapi memang antara keduanya terjadi hubungan yang spesial (Pacaran),” tiru Syarif dari tante mempelai laki-laki.

Pihak mempelai laki-laki juga melakukan banding di pengadilan agama, yang akhirnya KUA mencabut penolakan tersebut karena adanya dispensasi dari pengadilan agama. (sul/fajar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *