Dugaan Awal, Jangkar Kapal yang Bikin Pipa Pertamina Putus

0 Komentar

FAJAR.CO.ID, JAKARTA- Hingga kini penyebab putusnya pipa minyak Pertamina yang berdampak pencemaran Teluk Balikpapan masih menjadi teka-teki. Namun, berdasarkan investigasi yang masih terus dilakukan, diduga kebocoran pipa itu akibat tertarik jangkar kapal.

Kepala Pusat Hidro-Oseanografi TNI AL (Pushidrosal) Laksamana Muda TNI Harjo Susmoro mengatakan, ketika terjadi tumpahan minyak yang disusul kebakaran hebat di perairan Teluk Balikpapan, Sabtu (31/3), pihaknya langsung mengambil langkah inisiatif, yakni mempersiapkan tim survei darurat. Setelah diketahui ada kebocoran pipa pada Rabu (4/4), tim lantas memulai investigasi pada Jumat (6/4) malam.

“Informasinya memang sempat simpang siur. Yang awalnya katanya dari kapal, kemudian Pertamina mengaku pipanya patah. Setelah kami cek memang benar ada pipa yang patah,” ujarnya dikutip dari Kaltim Post (Jawa Pos Grup), Rabu (18/4).

Teluk Balikpapan yang sempat terkena tumpahan minya terlihat sudah bersih.

Teluk Balikpapan yang sempat terkena tumpahan minya terlihat sudah bersih. (dok. istimewa)

Mantan Wakil Asisten Operasi Panglima TNI ini melanjutkan, berdasarkan data Automatic Identification System (AIS), pada saat kejadian hanya kapal kargo MV Ever Judger yang melintas di kawasan DTT (daerah terbatas dan terlarang). Masih dari data AIS, MV Ever Judger bergerak dari dalam teluk ke arah luar (utara ke selatan) pada 30 Maret 2018 dengan kecepatan 1,6 knot. Kapal berada pada titik patahnya pipa sekitar pukul 22.05 Wita.

Sementara itu, penyidik Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Kaltim belum menyimpulkan penyebab putusnya pipa tersebut. Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Kaltim Kombes Pol Yustan Alpiani mengatakan, pipa belum diangkat.

Penyidik juga belum menyimpulkan bahwa putusnya pipa karena jangkar kapal MV Ever Judger. “Bukti sedang dikumpulkan berikut saksi dan keterangan ahli,” tuturnya.

Satu Pipa Tidak Terdaftar

Pushidrosal sendiri memiliki dua unit kapal modern dan delapan unit survei mobile serta dua tim survei darurat. Saat itu langsung dilakukan side sonar scan, dan didapati empat pipa Pertamina dengan posisi di atas tanah di dasar laut.

Pipa pada posisi paling utara sudah bergeser dan patah. Titik pergeseran sejauh 117,34 meter ke arah tenggara. Panjang patahan sekitar 26,7 meter pada kedalaman 21,15 meter.

Empat pipa Pertamina itu sudah terdata pada peta bawah laut, yang terakhir kali diperbarui pada 2015 oleh Pushidrosal. Peta itulah yang menjadi acuan pelayaran dari seluruh dunia, termasuk yang digunakan oleh Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP). Pada lokasi pipa Pertamina sudah jelas ditetapkan sebagai DTT termasuk larangan lego jangkar.

“Peta itu yang menggambarkan kondisi di perairan. Bukan tidak update. Kondisi di lapangan memang tak ada perubahan signifikan sejak 2015. Jadi, tidak benar kalau ada yang menyebut peta bawah air jadul. Bahkan, kalau ada kayu mengapung yang membahayakan pelayaran, setiap saat dilaporkan ke kami dan di-update terus,” kata Harjo.

Menariknya, ketika dilakukan scan magneto meter, terdeteksi satu pipa lagi yang terpendam di dalam tanah. Pipa itu rupanya tidak pernah dilaporkan ke Pushidrosal, sehingga tidak terdeteksi dalam peta bawah air.

“Saya sudah cek dokumen dulu, sama sekali tidak pernah ada pendaftaran dari Pertamina ke Pushidrosal untuk peletakan pipa tersebut,” tambahnya.

Soal satu pipa Pertamina yang belum terdaftar, baginya itu adalah ilegal. Tapi, bisa jadi tahapan perizinan dan lain-lain sejatinya sudah dilalui, hanya tidak dilaporkan ke Pushidrosal.

Sebab kewajiban operator adalah melaporkan kepada pemerintah setiap kegiatan di bawah laut dalam hal ini Dirjen Perhubungan Laut. Kewajiban untuk melapor ke Pushidrosal sendiri ada pada Permenhub 179/2016.

(jpg/est/JPC)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...