Sendiri Tunggui Anak di RS, Ni Ketut Nyondeng Ikutan Sakit

0 Komentar

Putri semata wayangnya tiba-tiba mengalami kelumpuhan dan harus dilarikan ke BRSU Tabanan, Bali, sedangkan Ni Ketut Nyondeng, 77, tak bisa berbuat banyak.

================

SETELAH empat hari menunggui sang anak di rumah sakit, nenek ini juga harus mendapatkan perawatan lantaran mengalami sesak napas.

Ni Ketut Nyondeng, warga Banjar Paka, Desa Sanda, Kecamatan Pupuan, Tabanan, berbaring lemas di salah satu ranjang pasien yang ada di UGD BRSU Tabanan, Selasa (17/4/2018). Ia juga harus dibantu alat bantu pernapasan lantaran mengalami sesak napas.

Janda anak satu ini mengalami sesak napas sejak Senin (16/4/2018) sekitar pukul 14.27 Wita, di mana sebelumnya Nyondeng memang berada di BRSU Tabanan untuk menunggui putrinya, Ni Wayan Kariani, 55, yang tiba-tiba mengalami lemas pada kaki kiri, sejak hari Jumat (13/4/2018).

Kepada Bali Express (Jawa Pos Group), Nyondeng menuturkan jika awalnya sang putri yang memang belum menikah tersebut kondisinya baik-baik saja. Namun pada Kamis (12/4), saat Kariani hendak membeli daging babi untuk diolah menjadi lauk yang kemudian dijualnya, sang putri semata wayang kehujanan, kemudian setelah kembali ke rumah Kariani mengeluh jika kaki kirinya tidak bisa digerakkan.

“Sampai di rumah dia duduk lalu bilang tidak bisa bangun karena kakinya tidak bisa digerakkan,” ujar Nyondeng.

Karena kondisinya semakin buruk, Jumat dini hari (13/4) Kariani ditemani Nyondeng pun dibawa ke BRSU Tabanan dengan bantuan tetangganya, karena memang mereka tidak memiliki keluarga lain. Suami Nyondeng telah tiada, dan Kariani pun memilih untuk tidak menikah demi menemani ibunya. “Sampai di rumah sakit, anak saya dirawat dan harus opname,” lanjutnya.

Karena keterbatasan yang dimiliki, saat menunggui sang anak di rumah sakit, Nyondeng hanya berbekal kain tipis yang digunakan sebagai alas tidur di depan Instalasi Bedah Central BRSU Tabanan, tepat disebelah ruang HCU tempat putrinya dirawat. Hal itu membuat sejumlah penunggu pasien iba, dan akhirnya memberikan Nyondeng alas tidur, biscuit, dan sejumlah makanan untuk dikonsumsinya. Bahkan kisahnya diupload ke media sosial oleh salah seorang penunggu pasien dan viral.

“Ada yang kasi saya jajan, alas tidur, uang,” imbuh Nyondeng yang sehari-hari bekerja sebagai buruh merabat tanaman liar di kebun warga tersebut.

Sayangnya, setelah tiga hari menunggui sang anak, Nyondeng malah ikutan sakit. Ia mengalami sesak napas dan harus dibawa ke UGD. Namun meskipun tengah terbaring di bed pasien, ia terus meminta tolong kepada tim medis untuk mengontrol kondisi anaknya. Ia pun berharap agar ia dan sang anak yang sehari-hari berjualan lauk di Pasar Sanda tersebut bisa segera sembuh dan berkumpul kembali.

Kepala Bidang Pelayanan Medik BRSU Tabanan, dr. I Gede Sudiarta menjelaskan bahwa Nyondeng dibawa ke UGD dengan keluhan batuk, sesak nafas dan dada berdebar. Dimana berdasarkan hasil pemeriksaan, dokter mendapatkan adanya tanda-tanda kelainan pada paru-paru Nyondeng yang menyebabkan pasien sesak napas disertai gangguan denyut jantung yang tidak teratur dan cepat.

“Dan setelah diperiksa baik lab, rontgen maupun rekam jantung, ditemukan tanda-tanda yang dicurigai kearah tumor paru disertai tanda-tanda pneumonia (Pneumonia Lobaris). Dan dari rekam jantung ada tanda-tanda denyut jantung tidak beraturan (Atrial Fibrilasi), dimana pasien saat ini dirawat oleh dokter ahli paru dan ahli jantung,” paparnya.

Dirinya menambahkan, sebelumnya pasien tersebut tengah menunggui sang anak yang datang ke BRSU Tabanan, Jumat (13/4) dengan keluhan kaki kiri lemas dan tidak bisa berjalan. Setelah dilakukan pemeriksaan CT Scan, ditemukan adanya tanda-tanda pendarahan pada otak, sehingga dirawat dengan diagnose stroke dengan pendarahan disertai kelumpuhan pada tangan dan kaki kiri. “Saat ini pasien tidak bisa berkomunikasi dengan jelas, karena suaranya Fellow (badil,Red), di mana biasanya disebabkan karena pasien memiliki riwayat tekanan darah tinggi namun tidak diketahui oleh pasien,” sambungnya.

Kata dia, penanganan pasien sudah dilakukan sesuai standar prosedur dan terapi, dimana biaya pengobatan keduanya ditanggung oleh Kartu Indonesia Sehat (KIS) yang telah dimiliki keduanya.

“Sedangkan untuk pelayanan pengambilan obat dan pemberian obat dilakukan oleh petugas BRSU Tabanan karena memang kedua pasien ini tidak ada yang menunggui. Semua proses pelayanan dan perawatan termasuk konsumsi kedua pasien dijalanka dengan kebijakan Direktur BRSU Tabanan ditanggung pihak rumah sakit sampai pasien stabil dan boleh pulang. Kami juga sudah berkoordinasi dengan Dinas Sosial Tabanan,” tandasnya.

Sementara itu, dari pantauan di lapangan, petugas Dinas Sosial Kabupaten Tabanan, Selasa kemarin juga sudah datang mengunjungi Nyondeng dan Kariani sembari memberikan sejumlah uang dan biscuit. (bx/ras/yes/JPR)

 

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...