Co-Branding, Misi Possible Bagi Destinasi Digital

Jumat, 20 April 2018 - 06:45 WIB

JAKARTA – Suksesnya destinasi digital besutan Generasi Pesona Indonesia (GenPI) membuat peluang co-branding terbuka luas. Destinasi digital dinilai memiliki semua syarat co-branding dengan perusahaan besar. Terlebih, konsep bisnis yang dikembangkan mengarah ke sharing ekonomi.

Teknis dan tips co-branding untuk destinasi digital, akan dikupas dalam Training On Trainer (TOT) di Semarang, Jawa Tengah, Sabtu (21/4). Pematerinya adalah Ketua II Co-Branding Kementerian Pariwisata, Priantono Rudito.

Menurut Priantono, perubahan konsep bisnis ke arah sharing ekonomi membuka pintu co-branding. Dalam konsep ini, setiap lini bisnis memiliki peluang yang sama.

“Berbicara konsep co-branding sebenarnya tidak terlalu rumit. Dengan perubahan model bisnis ke arah sharing economy, artinya, ada banyak perusahaan atau brand yang tidak bisa berdiri sendiri. Mereka membutuhkan sistem lain untuk saling menguatkan,” ungkap Priantono, Kamis (19/4).

Co-branding menjadi solusi tercepat dan efisien untuk memuluskan bisnis. Sebab, di sini kedua belah pihak bisa menggabungkan seluruh potensinya. Tujuannya adalah value yang riil. Berbagai kelemahan system yang dimiliki juga berpotensi dikuatkan oleh partner bisnisnya.

“Co-branding adalah kolaborasi yang menguntungkan untuk mencapai target tertentu. Target-target ini beserta kurasi dan penentuannya dari setiap brand memiliki plot yang berbeda. Selalu ada cara untuk mensikapi itu semua. Untuk itu, semua akan disampaikan dalam Training On Trainer. Kegiatan seperti ini sangat penting,” terangnya.

Dalam TOT nanti, Priantono berencana mengajak audience untuk lebih aktif berineraksi. “Peserta TOT ini harus mengerti dahulu apa itu co-branding dan mengapa jadi kebutuhan. Lalu, hingga akhirnya dipilih konsep itu. Semua akan dijelaskan detail. Kami minta peserta lebih aktif,” katanya.

Dijelaskannya, potensi destinasi digital untuk mengakomodir konsep co-branding sangat besar. Bahkan, beberapa brand besar mengaku tergiur untuk berkolaborasi dengan unit bisnis Destinasi Digital, seperti pasar-pasar generasi milenial.

Dalam Workshop Matchmaking COE, Digital Destination Diaspora Restaurant with Co-Branding Partner, beberapa waktu lalu, diketahui ada beberapa brand yang masuk daftar tunggu co-branding. Diantaranya Sahid Hotel Group, Warunk Upnormal milik PT. Cita Rasa Prima, dan BRI.

Untuk BRI, bank ini baru saja me-launching Kartu Kredit BRI Wonderful Indonesia di Taman Wisata Candi Borobudur, Magelang, Rabu (18/4). Posisi BRI pun makin terbuka menghadirkan transaksi e-money di pasar digital.

“Konsep co-branding ini jauh lebih fleksibel. Di sini, kedua belah pihak yang berkolaborasi sama-sama memiliki peluang untuk mengembangkan konsep project bersama-sama. Yang jelas, konsep co-branding ini jauh lebih nyaman. Dan, modal kuat sudah dimiliki Destinasi Digital,” terang Priantono lagi.

Menurutnya, pembeda destinasi digital dengan unit bisnis lain juga jelas. Pasar digital lebih instagrammable dan digitalable photogenis.

“Potensi-potensi besar ini harus dioptimalkan sebaik mungkin. Untuk itu, setelah mengikuti TOT ini, diharapkan para peserta ini memiliki arah yang mantab untuk mengembangkan konsep co-branding. Mereka bisa membidik brand-brand yang sesuai dan menguntungkan bagi semua pihak,” jelasnya.

Sementara Menteri Pariwisata Arief Yahya, berharap pasar digital GenPI terus mengembangkan konsepnya. Hal ini untuk terus membuka peluang co-branding.

“Potensi Destinasi Digital dengan pasar-pasarnya sangat besar untuk co-branding. Untuk itu, momen TOT ini harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya oleh peserta. Ada banyak pengetahuan baru yang bisa didapat. Yang terpenting harus aktif,” tutup Menteri asal Banyuwangi tersebut. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.