Banyak KUA Tolak Legalisir Buku Nikah, Takut Palsu

Minggu, 22 April 2018 - 19:08 WIB

FAJAR.CO.ID, BANJARBARU – Urusan legalisasi buku nikah menjadi permasalahan rumit di Banjarbaru. Saking hati-hatinya, beberapa Kantor Urusan Agama (KUA) di Kota Idaman seringkali menolak melegalisasi fotokopi buku nikah milik warga. Sebab, ragu atas keasliannya.

Seperti yang di alami Ali. Warga Kelurahan Guntung Manggis, Banjarbaru ini kesal karena KUA Landasan Ulin tak mau melegalisir fotokopi buku nikah miliknya. Padahal, buku itu dia dapatkan secara sah ketika menikahi istrinya di hadapan penghulu. “Saya sangat perlu legalisir sebagai syarat pembuatan akta kelahiran anak saya di Disdukcapil (Dinas Kependudukam dan Pencatatan sipil),” katanya.

Dia mengungkapkan, KUA Landasan Ulin saat itu menolak melegalisir karena buku nikah miliknya rusak sedikit lantaran dimakan rayap. “Mereka menyarankan saya untuk minta legalisir di KUA tempat buku nikah saya dikeluarkan,” ungkapnya.

Saran itu dilakukan Ali, dia kemudian ke KUA Kertak Hanyar, Kabupaten Banjar untuk meminta legalisir potokopi buku nikah. “Ternyata di sana langsung diterima. Kata pihak KUA Kertak Hanyar tak ada masalah dengan buku nikah saya, tapi kenapa di Banjarbaru tidak melegalkannya,” ujar Ali.

Saat wartawan koran ini mencoba mengkonfirmasi, Kepala KUA Landasan Ulin kebetulan tidak ada di tempat. Salah seorang penghulu di sana mengatakan bahwa pimpinannya tersebut sudah dua hari berada di Banjarmasin.

Sementara itu, mengenai penolakan legalisisasi tersebut. Kepala Kemenag Banjarbaru Zainal Ilmi mengungkapkan, pihak KUA memang selalu berhati-hati dalam memberikan legalitas. Untuk menghindari pengesahan buku nikah yang tidak sah. “Kalau KUA menolak melegalisir, berarti mereka ragu dengan kesahan buku nikah itu,” ungkapnya.

Dia menuturkan, kehati-hatian dilakukan lantaran KUA seringkali menemukan buku nikah yang tidak sah. “Kalau tidak sah dilegalisir, takutnya di kemudian hari jadi masalah. Karena bisa jadi, buku nikah itu milik pasangan yang tidak sah,” ujarnya.

Pasangan tidak sah yang dimaksud ialah laki-laki yang menikahi wanita lain tanpa sepengetahuan istrinya, sehingga sulit untuk mendapatkan buku nikah dari KUA. “Para Kepala KUA sering diminta orang membuatkan buku nikah tanpa melalui peraturan yang berlaku, dengan iming-iming uang. Tapi, mereka tak akan tergiur. Sebab, buku nikah tak bisa dibuat main-main,” tambah Zainal Ilmi.

Dia mengimbau, jika masyarakat ingin melegalisir buku nikah. Pastikan buku tidak rusak dan tulisannya masih jelas. Selain itu, identitasnya juga harus sama dengan KTP. “Sedikit saja rusak, KUA akan menolak melegalisir. Kecuali KUA yang mengeluarkan buku itu sendiri, mereka berani melegalisir lantaran punya data,” imbaunya.

Dengan rumitnya legalisasi itu, membuat Disdukcapil Banjarbaru tak mau melayani apabila buku nikah belum terlegalisir. “Kami sudah saling berkoordinasi dengan Disdukcapil, mereka ingin potokopi buku nikah yang digunakan warga mengurus surat kependudukan wajib dilegalisir,” ujar Zainal Ilmi.

Secara terpisah, Kepala Disdukcapil Banjarbaru Sri Fatma Karmailita membenarkan jika pihaknya mewajibkan masyarakat membawa buku nikah terlegalisasi jika ingin mengurus surat kependudukan. “Kami wajibkan semua, karena ada undang-undang yang mengatur hal itu,” katanya.

Menurutnya mudah mendapatkan legalisasi dari KUA, asalkan persyaratan yang dibawa lengkap. “Ada kok KUA yang mau melegalisir walaupun buku nikah dileluarkan oleh KUA lain,” ujarnya.

Lalu bagaiamana dengan di daerah lain? Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Banjar ternyata membolehkan fotokopi akta atau buku nikah tanpa legalisir dari KUA setempat, pemohon cukup membawa buku asli perkawinan tersebut saat verifikasi data di pendaftaran.

Kopian akta nikah dari KUA itupun khusus untuk agama Islam, sedangkan bagi warga non muslim cukup memasukan salinan akta perkawinan dari Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil. Anak hasil hubungan nikah siri pun berhak mendapat kutipan akta lahir dengan mencatumkan Surat Pernyataan Tanggung Jawab Mutlak atau SPTJM yang menerangkan tentang keberanan sebagai pasangan suami istri.

Kasi Perkawinan, Perceraian, Perubahan Status Anak dan Kewarganegaraan, Disdukcapil Banjar Hj Arbainah menerangkan, pemohon wajib mengisi mengisi formulir yang telah disiapkan, ditambah surat keterangan lahir dari rumah sakit, bidan, dan dokter. Orang tua anak juga menyertakan kartu keluarga dan akta nikah/akta perkawinan atau SPTJM.

Disdukcapil Banjar juga minta fotokopi KTP elektronik suami istri ditambah 2 KTP akan menjadi saksi. Pelaporan kelahiran wajib hadir ketika verifikasi baik dari orang tua atau salah satu keluarganya yang sudah dewasa. Tambahan data pendukung hanya fotokopi ijazah dan paspor bagi bagi yang sudah memiliki dan SK awal untuk PNS/TNI/ Polri, data ini sifatnya untuk pembanding.

“Kami di sini tidak mensyaratkan Buku Nikah harus dilegalisir. Cukup fotokopi saja namun ketika verifikasi wajib membawa yang asli,” tegas Arbainah, kemarin 19/4) siang di kantornya.

Menurut Arbainah, yang tercatat dalam sistem sejatinya adalah register akta kelahiran sedangkan yang diberikan kepada orang tua anak hanya kutipan akta lahir. Isinya juga berbeda dengan register yang mencatumkan nama saksi dan orang yang melaporkan kelahiran tersebut. Artinya, register akta kelahiran lebih lengkap.
Disdukcapil Banjar menjamin, seluruh proses gratis, bahkan Kabupaten Banjar telah menghapus denda keterlambatan membuat akta kelahiran sejak 2017 lalu, apakah si anak hasil pernikahan resmi yang tercatat di KUA atau belum yang dikenal dengan pernikahan dibawah tangan. Pemerintah pusat telah menerbitkan Permendagri Nomor 9 Tahun 2016 tentang percepatan peningkatan cakupan kepemilikan akta kelahiran.

“Aturan itu jadi pijakan kami mencetak kutipan akta lahir bagi pasangan nikah siri, yaitu mengganti buku nikah dengan SPTJM. Tapi di akta kelahiran ada keterangan pernikahan kedua orang tua anak belum dicatat resmi di KUA,” tegas Arbainah.

Kepala Dinas Disdukcapil Banjar Azwar Hadi menerangkan, tiap tahun ada target cakupan kepemilikan akta kelahiran. Pada 2017 tadi ditargetkan 78 persen sedangkan 2018 ini menjadi 85 persen. Dari catatannya, warga Banjar berusia 0-18 tahun yang belum memiliki akte kelahiran adalah 88.359 orang dari jumlah keseluruhan warga berumur 0-18 tahun sebanyak 171.134 jiwa.

“Sebanyak 82.775 anak sudah memiliki akta kelahiran atau 48,37 persen. Sejak awal bulan pada 2018 tadi ada peningkatan pengurusan akta kelahiran, setiap hari sekitar 70-100 pemohon,” pungkasnya.

Jadi Incaran, Laku Dijual Jutaan Rupiah

Buku nikah nampaknya sudah menjadi barang berharga, terhitung sudah ada dua KUA di Banjarbaru yang dibobol maling hanya untuk mencuri puluhan surat perkawinan kosong.

Hal itu disampaikan Kepala Kemenag Banjarbaru Zainal Ilmi, Kamis (19/4) kemarin. Dia mengungkapkan, dua kantor yang pernah dimasuki pencuri ialah KUA Liang Anggang pada 2016 dan KUA Cempaka di tahun berikutnya. “Anehnya hanya buku nikah yang dibawa, padahal ada banyak barang berharga lain. Seperti komputer dan lain-lain,” ungkapnya.

Dia menduga, buku nikah dapat diperjualbelikan. Para pembelinya ialah pasangan yang menjalin hubungan tanpa melalui proses perkawinan di KUA. “Tapi saat itu, kami langsung menyebar nomor seri buku nikah yang hilang ke semua KUA. Jadi kalau ada yang menggunakannya KUA tahu bahwa buku itu tidak sah,” ujarnya.

Karena maraknya pencurian, kini Kemenag Banjarbaru memberikan stok buku nikah ke KUA seperlunya saja. “Kami minta data ke mereka, rata-rata satu bulan berapa buku nikah yang terpakai. Jumlah itulah yang kami berikan,” kata Zainal Ilmi.

Adanya kasus pencurian buku nikah di KUA Cempaka dibenarkan Kapolres Banjarbaru AKBP Kelana Jaya melalui Kapolsek Banjarbaru Timur AKP Avan Suligi. “Iya benar, aneh juga itu kenapa hanya buku nikah yang diambil. Padahal ada barang berharga lainnya,” tuturnya.

Dia juga menduga buku nikah curian kemungkinan dijual ke para pasangan ilegal yang tak bisa mendapatkan surat perkawinan dari KUA. “Bisa itu untuk laki-aki yang ingin menyenangkan hati selingkuhannya,” candanya.

Dari informasi yang dia dapatkan, buku nikah kosong bisa laku hingga jutaan rupiah. “Apalagi yang membeli orang kaya, bisa lebih mahal. Tapi tidak sampai kalau puluhan juta,” pungkas Avan. (ris/mam/ay/ran)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.