Ratusan Imigran Protes Minta Dibebaskan

Minggu, 22 April 2018 - 21:33 WIB

FAJAR.CO.ID, BALIKPAPAN – Kegaduhan kembali terjadi di Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) Balikpapan, Jumat (20/4) malam. Sebanyak 149 pengungsi asal Afganistan, Somalia, dan Iran meminta untuk dibebaskan. Mereka merasa diperlakukan sebagai tahanan dan pelaku kriminal.

Bentuk protes ditunjukkan dengan cara membuat berbagai spanduk, di antaranya bertuliskan “Sudah Cukup Dipenjara Empat Tahun”. Ada juga spanduk bertuliskan “Day 94 of Our Protest in Balikpapan”. Selain membuat spanduk, mereka juga merusak beberapa fasilitas Rudenim, di antaranya lima CCTV dari total 22 CCTV yang terpasang. Perusakan dilakukan pula terhadap tanaman dalam penampungan serta terali pintu yang ada di enam blok penampungan.

Kekacauan yang terjadi di Rudenim memang bukan kali pertama. Mereka sudah berulah sejak September 2017. Banyak tuntutan yang diminta, namun semuanya tak bisa dikabulkan. Adapun tuntutan yang mereka ajukan, yakni kebebasan. Namun hal ini tentu tidak bisa dilakukan. Pasalnya, Imigrasi Balikpapan belum memiliki community house. Hal tersebut hanya bisa difasilitasi oleh pemerintah daerah.

“Saat ini masih dilakukan pembicaraan. Selain itu, pembebasan para imigran ini juga mendapatkan penolakan dari warga Balikpapan dengan alasan beragam, mulai aliran agama hingga keamanan bagi warga itu sendiri,” kata Kepala Rudenim, Muhammad Irham.

Opsi lain, dia menambahkan, melakukan pemindahan para pengungsi secara bertahap. Awalnya ada 300 kini berkurang menjadi 149. Dalam waktu dekat, akan dikirim 44 pengungsi ke kawasan Batam dan Jakarta. “Menyusul dikirim ke Makassar 50 orang,” sebut dia.

Permintaan untuk dipindah, antara lain disampaikan pengungsi asal Afghanistan, Muhammad Ghozali. Dia mengaku merasa diperlakukan seperti di dalam tahanan. Itu membuat mereka merasa geram bercampur jenuh dan bosan. “Kami ingin menghirup udara bebas, makanya serentak ingin dipindahkan saja ke Jakarta atau Makassar. Di sini seperti tahanan,” protes Ghozali.

Guna mengantisipasi tindakan anarkis, Polres Balikpapan mengerahkan 180 personel dibantu TNI beserta Satpol PP. “Kami sudah melakukan pendekatan persuasif kepada pada pengungsi untuk tetap tenang,” ujar Kapolres Balikpapan AKBP Wiwin Firta.

Sementara itu, Wawan, warga sekitar yang tinggal di sekitar Rudenim mengatakan keberatan akan kegaduhan ini. Pasalnya, hampir setiap malam mendengar keributan dari para imigran. “Dua RT dibuat resah, yakni RT 14 dan RT 19 yang berbatasan langsung. Makanya kami tidak ingin bila dia bebas di Kota Minyak,” katanya.

Seperti diketahui, para pengungsi ini awalnya terdaftar sebagai pencari pekerjaan. Indonesia bukan menjadi tempat tujuan, hanya untuk transit. Tujuan mereka yakni Australia. (ham/yud/k1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.