Pipa Pertamina di Teluk Balikpapan Segera Diangkat untuk Barang Bukti

Rabu, 25 April 2018 - 11:06 WIB

FAJAR.CO.ID, BALIKPAPAN – Seluruh potongan pipa minyak milik Pertamina yang menjadi barang bukti akhirnya berhasil diangkat dari dasar perairan Teluk Balikpapan kemarin (22/4).

Sebelumnya, potongan pipa lainnya sudah diangkat pada Kamis (19/4) dan Jumat (20/4). Pengangkatan potongan terakhir kemarin berlangsung selama satu jam. Pengangkatan dilakukan oleh Pertamina menggunakan kapal Sea Haven II yang dilengkapi dengan crane.

Direktur Reserse Kriminal Khusus (Dirreskrimsus) Polda Kaltim Kombes Yustan Alpiani mengatakan, proses pemotongan hingga pengangkatan pipa minyak itu perlu waktu selama 21 hari. Proses pemotongan pipa ini memakan waktu lama karena ketebalan pipa yang mencapai 12 milimeter, diameter 20 inci, dan dilapisi beton.

“Untuk 1 meter pipa saja, beratnya 500 kilogram. Kalau semua pipa (yang diangkat) panjangnya 49 meter, beratnya mencapai 24,5 ton. Ini dibagi tiga potongan. Sebelumnya, sudah dua kali pengangkatan, ini yang ketiga. Lalu, dari tengah laut dibawa ke daratan di area kerja Pertamina,” paparnya.

Dia melanjutkan, potongan pipa akan disusun seperti di bawah laut sedalam 22 meter. Selanjutnya, juga akan dilakukan rapat koordinasi hari ini (23/4), hasilnya akan dijadikan acuan peletakan posisi pipa.

“Hasil koordinasi nanti akan menentukan posisi pipa. Kemudian dilakukan olah TKP (tempat kejadian perkara) oleh Puslabfor. Bagaimana pipa bisa putus, kan tidak ada yang tahu pasti kejadiannya. Makanya olah TKP. Semua harus dibuktikan dahulu sebelum ditetapkan siapa pelakunya,” terang Yustan.

Dia menyebut, tim Puslabfor sudah dua kali melakukan pemeriksaan. “Kalau cuaca baik, diupayakan paling lama olah TKP memakan waktu dua hari,” imbuhnya. Pekerjaan seluruhnya dilakukan oleh tim penyelam dari PT Dewi Rahmi secara bergantian. Mulai pemotongan sampai pengangkatan pipa baja berlapis beton tersebut. Sebanyak 27 orang keseluruhan diturunkan, per pekerjaan dilakukan oleh 19 orang bergantian.

Penyelam yang melakukan pekerjaan di kedalaman laut juga harus menghadapi arus dan keterbatasan penglihatan. Tiap penyelam juga tidak boleh melakukan pekerjaan melebihi satu jam. “Selama ini proses pemotongan beberapa kali terhenti karena mata pemotong baja yang putus,” paparnya.

Region Manager Communication & CSR Kalimantan Yudi Nugraha mengatakan, Pertamina telah melakukan pengangkatan pipa dengan cutting point E3 (line E1-E3) yang memiliki ukuran 7 meter dengan berat 3,5 ton pada Kamis (19/4) pukul 16.05 Wita. Kemudian, pada Jumat (20/4) pukul 09.30 Wita, pipa dengan cutting point B3 (line D-B3) memiliki ukuran 18 meter dengan berat 9 ton berhasil diangkat.

Terakhir, pipa 24 meter dengan berat 12 ton berada di cutting point A3 (line B3-A3) diangkat pada Minggu (21/4) sekitar pukul 18.00 Wita. “Pertamina berupaya membantu pihak kepolisian melakukan investigasi. Salah satunya melakukan pengangkatan pipa dan menyediakan lokasi pemeriksaan pipa di darat,” ujarnya.

Pipa Pertamina yang putus memiliki ketebalan sekitar 12,7 milimeter, terbuat dari bahan carbon steel pipe API 5L Grade X42. Kekuatan pipa terhadap tekanan diukur dari Safe Maximum Allowable Operating Pressure (MAOP) sebesar 1061,42 Psig. Sementara, operating pressure yang terjadi pada pipa hanya mencapai 170.67 Psig. Artinya, pada kondisi normal, pipa tersebut tak mungkin patah hanya karena operasional pengiriman minyak rutin.

Kondisi terakhir pipa sangat baik dan diinspeksi secara berkala. Terakhir kali visual inspection pada 10 Desember 2017 oleh penyelam untuk mengecek kondisi eksternal pipa, cathodic protection (cek pelindung korosi) dan spot thickness.

Inspeksi untuk sertifikasi terakhir dilakukan pada 25 Oktober 2016. Sertifikat kelayakan penggunaan peralatan yang dikeluarkan oleh Dirjen Migas masih berlaku hingga 26 Oktober 2019. Sertifikasi dilakukan 3 tahun sekali sesuai Sertifikat Kelayakan Penggunaan Peralatan (SKPP) Migas.

Sebelumnya diberitakan, Kepala Pusat Hidrografi dan Oseanografi TNI Angkatan Laut (Kapushidrosal) Laksamana Muda TNI Harjo Susmoro mengatakan, Pertamina merupakan korban pada peristiwa patahnya pipa di Teluk Balikpapan setelah Pushidrosal melakukan pencitraan dasar laut di lokasi, tak lama sesudah kejadian.

“Tidak mungkin pipa patah begitu saja. Kalau melihat hasil patahan pipa dan bekas garukan, pasti ada benda keras yang menyebabkan. Asumsi kami, benda keras itu adalah jangkar,” kata Harjo.

Selain menunggu investigasi atas penyebab eksternal atas patahnya pipa tersebut untuk kepentingan hukum, Pertamina dan warga Balikpapan menantikan hasil uji laboratorium atas kualitas air Teluk Balikpapan yang sedang dilakukan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). (rsh/rom/k11)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *