Ray Rangkuti Soal Penggunaan Idiom Agama Dalam Berdemokrasi

Jumat, 27 April 2018 - 10:15 WIB

FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Negara yang berbentuk demokrasi seperti Indonesia, sah-sah saja mempergunakan idiom atau simbol apapun, termasuk simbol-simbol agama. Namun, tidak boleh dipakai untuk mendeskreditkan atau memfitnah kelompok lain.

Pendapat ini disampaikan Direktur Eksekutif Lingkar Madani (Lima), Ray Rangkuti kepada wartawan di Jakarta, Jumat (27/4/2018).

Menurut dia, boleh-boleh saja menggunakan idiom-idiom agama, apalagi jika melihat kriterianya, demokrasi membolehkan pakai agama, suku, almamater ataupun lainnya.

“Justru membolehkan semua idiom-idiom, baik itu agama, sosial, historis profesi dipergunakan dalam kerangka politik tetapi semua penggunaan itu tidak dimaksudkan untuk mensubordinasikan satu sama lain,” ujar Rangkuti lagi.

Sebelumnya, dalam diskusi publik Kaukus Muda Indonesia (KMI) bertema “Menyoal Idiom Agama Dalam Politik”, Ketua Tim Advokasi Muslim Pembela Amien Rais (TAMPAR), Surya Imam Wahyudi menegaskan bahwa harus dipahami memang ada sebuah kewajiban bagi setiap manusia untuk menyampaikan nilai kebenaran dan keadilan.

“Demikian halnya terkait masalah yang disampaikan oleh Amien Rais tentang partai setan tidak bisa ditarik menjadi unsur ujaran kebencian,” ujarnya.

Ia hanya menduga ada upaya untuk membenturkan umat dalam situasi politik di tanah air seperti ini.

Sementara itu, pengamat Politik Universitas Islam Negeri (UIN), Bakir Ihsan menilai perlu adanya proses penyadaran politik yang mencerahkan politik pada masyarakat khususnya dalam kaitan antara agama dan politik tertentu adalah tugas tugas-tugas tokoh agama dan Civil Society untuk menyadarkan agar hal itu jangan sampai menjadi bagian yang justru mengerutkan suasana di mana relasi agama dan politik menjadi destruktif.

“Jadi agama tetap pada misi yang mentransformasikan politik kurang baik menjadi baik dan yang baik menjadi lebih baik,” katanya.

Dalam kesempatan yang sama, Andi Sinulingga, Politisi Golkar mengatakan bahwa tidak konsekuensi jika apa yang kita katakan tidak kita kerjakan terlebih dahulu sehingga menjadi satu antara kata dengan perbuatan.

Yang perlu digaris bawahi, menurut Andi adalah terlalu banyak ruang diskursus diisi oleh figur-figur yang tidak satu kata dengan perbuatan.

“Problemnya yang ada saat ini adalah adanya pihak yang menampakan diri dengan identifikasi diri dan seterusnya menggunakan simbol-simbol keagamaan dan ada juga yang tidak, namun ujung-ujungnya semua dilihat dari perilaku itu sendiri,” ucapnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.