Satu Keluarga Jalankan Bisnis Sabu, Mereka Saling Bersaksi

Jumat, 27 April 2018 - 03:43 WIB

FAJAR.CO.ID, SAMARINDA- Sekeluarga diringkus petugas Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Kaltim. Mereka adalah Dahlan, Heri, Sri Munarti, Arbayah. Antara Dahlan dan Arbayah merupakan pasangan suami istri (pasutri), sedangkan Heri adalah mantu Dahlan. Sementara Sri merupakan kakak ipar Sri, karena suami Sri merupakan kakak kandung Heri. Sementara seorang lagi bernama Baihaki, yang hanya sebagai pesuruh Dahlan.
Kelimanya ditangkap anggota BNNP Kaltim di Jalan Tanjung Kuaro, RT 7, Desa Songka, Kecamatan Batu Sopang, Kabupaten Paser, Jumat (8/12) pukul 08.30 Wita, 2017 lalu. Pertama ditangkap adalah Baihaki saat menyerahkan sabu kepada petugas BNNP yang melakukan penyamaran.
“Saya disuruh ibu Arbayah menyerahkan sepoket sabu. Katanya ada yang mau beli. Saya datang ke rumah pak Dahlan karena disuruh minta uang Rp 100 ribu buat beli balok, untuk perbaiki rumahnya yang ada di kebun sawit,” beber Baihaki.
Saat Baihaki menyerahkan sabu ke orang yang menunggu di depan pagar, ternyata dia ditodong pistol. Rupanya yang memesan adalah polisi yang menyamar. Selanjutnya Baihaki dibawa ke rumah dan dia menunjuk Arbayah. Saat digeledah di kamar Arbayah ditemukan 54 poket sabu yang totalnya sekitar 64,98 gram bruto. Petugas juga menemukan sejumlah barang bukti lain, seperti bong, beberapa HP, serta plastik pembungkus sabu dan uang Rp 750 yang diduga hasil penjualan sabu. Selain Arbayah, di rumah yang sama juga diamankan Heri dan Sri. Dari pengakuan Arbayah, rupanya pemilik sabu adalah Dahlan. Akhirnya dilakukan pengejaran dan Dahlan berhasil ditangkap.
Dalam sidang yang digelar, Selasa (24/4) sore, Sri yang diperiksa sebagai saksi mengaku dia yang mengantarkan sabu kepada Arbayah dan Dahlan. “Sudah tiga kali saya antarkan sabu. Pertama dan kedua mengambil sabu di daerah Gunung Rambutan (Jalan Poros perbatasan Kaltim-Kalsel). Yang ketiga di daerah Bukit Soeharto, jalan Samarinda-Balikpapan,” kata Sri.
“Saya hanya disuruh kenalan mengambil sabu dan menyerahkannya ke Dahlan serta Arbayah. Sementara Heri hanya saya ajak saja. Tiap pengantaran diberi upah saja,” kata Sri lagi.
Saat ditanya majelis hakim dipimpin Maskur, didampingi Achmad Rasyid Purba dan Abdul Rahman Karim, Baihaki mengaku mengetahui jika Arbayah dan Dahlan menjual sabu.
“Saya tahu karena pernah beli,” timpal Baihaki.
Sidang lanjutan akan dilanjutkan di PN Samarinda minggu depan. (rin)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.