Statusnya Masih Pelajar, Tapi Jadi Pemimpin Komplotan Pembobol Sekolah

Jumat, 27 April 2018 - 00:06 WIB

FAJAR.CO.ID, BALIKPAPAN – Adikodrati (18) adalah siswa kelas XII di salah satu SMA swasta di kawasan Balikpapan Tengah. Di balik tubuh kecilnya dia punya nyali. Memimpin kelompok pemuda lainnya untuk mencuri di SMP Santo Mikail yang berlokasi di belakang Makodam VI/Mulawarman. Dengan wajah ditutupi bandana, dia menyebut sudah tiga kali melakukan aksinya.

“Saya alumnus sekolah (SMP Santo Mikail) itu,” ungkap Adi, Selasa (24/4) di ruang Reserse Kriminal Polres Balikpapan.

Sepak terjangnya pertama kali saat dia duduk di kelas X. Di 2016 dia mengajak Effendi (18) yang putus sekolah. Dia lupa tanggal persisnya melakukan pencurian. Yang dia ingat, ketika tengah malam memanjat pagar depan sekolah. Kemudian, menuju ruang tata usaha (TU). Effendi bertugas mencongkel jendela menggunakan linggis.

“Kami ambil laptop dua unit. Sama uang Rp 10 juta di dalam laci,” jelas Adi.

Usai mencuri, uang dibagi dan digunakan untuk mabuk dan datang ke tempat hiburan malam (THM). Aksi keduanya dilanjutkan di sekolah yang sama di 2017. Lagi-lagi dia lupa kapan kejadiannya. Yang dia tahu, dia kembali memanjat pagar depan sekolah. Lalu, kembali masuk ke ruang TU. Kali ini yang didapat uang Rp 1,5 juta. “Saya buat foya-foya, Pak. Buat ke THM dan beli makan,” sebutnya.

Di aksi ketiganya, Adi mengajak kakak kelasnya yang sudah lulus, Marcel (18). Juga Pasya (20) yang dikenalnya karena sering nongkrong bareng. Keempatnya kembali membobol Santo Mikail pada 8 Maret lalu. Dari pencurian ini, komplotan memperoleh uang Rp 6 juta. Selain itu, mereka mengambil satu pemutar DVD, gitar, ponsel, dan dua unit proyektor.

“Uangnya dibagi. Proyektornya sempat dijual Rp 900 ribu dua unit,” terangnya.

Aksi komplotan Adi berakhir Senin (23/4) lalu. Keempatnya diringkus tim Jatanras Polres Balikpapan di lokasi berbeda. Adi ditangkap di rumahnya di Telaga Sari, Balikpapan Kota. Rasa malu tak tertahan karena orangtuanya tahu akan kelakuan kriminalnya. “Malu Pak. Orangtua tahu kalau saya mencuri. Saya janji tak akan mengulanginya,” sebutnya yang Mei nanti bakal menerima pernyataan kelulusan.

Sementara itu, Paur Subbag Humas Polres Balikpapan Ipda Ketut Darmada menyatakan laporan kepala SMP Santo Mikail jadi petunjuk pihaknya melakukan penyelidikan. Awalnya, petugas tak menemukan jejak apapun. Lantaran tak ada saksi maupun rekaman CCTV.

“Memang sejak awal, tersangka ini tahu jika sekolah yang dia curi tak dijaga sekuriti dan tak terdapat CCTV. Namun akhirnya, penyidik berhasil menemukan petunjuk dari aktivitas para tersangka,” kata Ketut. Keempatnya lantas dikenakan Pasal 363 KUHP tentang Pencurian dengan pemberatan. Ancaman hukuman di atas lima tahun penjara.(*/rdh/one/k15)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.