Pentolan Aktivis 98 Ini Serukan Masuk Kabinet

0 Komentar

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Menikmati udara reformasi saat ini butuh perjuangan keras dari para mahasiswa Indonesia. Tak sedikit mahasiswa di tahun 1998 menjadi korban keganasan Pemerintah Orde Baru (Orba) yang kukuh pertahankan jabatan mereka.

Lewat aksi yang berlangsung cukup lama itu, kedigdayaan Orba akhirnya runtuh lewat sidang istimewa pada Mei 1998. Mahasiswa yang menjadi kunci dibalik runtuhnya rezim Orba kini muncul ke ruang publik, dengan tujuan masuk dalam kabinet Pemerintahan.

“Sudah waktunya aktivis 98 masuk kabinet, saya mengusulkan kawan-kawan masuk kabinet,” kata pentolan Perhimpunan Aktivis Nasional (PENA) 98, Wahab dalam keterangnnya di Jakarta, Sabtu (28/4).

Lanjut Wahab menyebut Sekjen PENA 98, Adian Napitupulu pantas masuk kabinet dan para aktvis yang menumbangkan Orba tidak perlu malu-malu lagi masuk ke politik karena aksi 98 adalah gerakan politik.

“Kenapa hari ini posisi tawar kita lemah, memang aktivis 98 waktu itu kuat standingnya di gerakan moral. Kita tidak di gerakan politik, meskipun yang kita lakukan adalah tindakan politik. Karena di gerakan moral itulah kita bisa jatuhkan Soeharto, karena saat itu kita tidak takut mati, diculik, kita wakafkan diri kita untuk bangsa dan negara,” ujarnya.

Karena itu, saat ada tawaran dari BJ Habibie atau Amien Rais pada rapat di Semanggi, bahwa ada jatah 100 orang untuk aktivis 98 untuk masuk parlemen, aktivis 98 menyatakan sikap menolak tawaran tersebut.

“Kita menentukan sikap untuk tidak menerima tawaran untuk masuk parlemen, kalau waktu itu kita berpikir politik, kita sekarang senior di DPR. Karena waktu itu tawaran 100 orang aktivis untuk masuk parlemen, kami tolak, clear, itu sikap kita,” ujarnya.

Saat itu para aktivis 98 menolak tawaran tersebut karena tidak percaya terhadap parlemen setelah 32 tahun era orba tidak melakukan tugas dan fungsinya sesuai amanat yang diberikan rakyat. “Soal lemahnya kedudukan (aktivis 98) di partai, saya kira wajar karena partai masih menjadi oligarki oleh kekuatan lama,” ujarnya.

Dalam diskusi yang juga menghadirkan para aktivis 98 lainnya, yakni Eli Salomo Sinaga dan Roy Simanjuntak dari Forkot, dan Sayed Junaidi Rizaldi (Pak Cik), sepakat bahwa setelah menumbangkan Soeharto, pihaknya tidak melakukan cleansing rezim, sehingga kroni-kroninya tetap bercokol.

“Reformasi sebagian dikatakan gagal karena tidak terjadi cleansing government. Waktu reformasi lahir tidak ada pembersihan terhadap Soeharto dan kroni-kroninya. Padahal, mereka pada waktu berkuasa itu mengasi ekonomi negera ini, sehngga hari ini mereka masih tetap berpengaruh di Republik ini,” pungkasnya. (Aiy/Fajar)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

0 Komentar