Fahri Hamzah Ingin Melihat Jokowi Adu Argumen dengan Rocky Gerung di ILC

0 Komentar

FAJAR.CO.ID, JAKARTA- Wakil Ketua DPR RI, Fahri Hamzah menilai Presiden Joko Widodo (Jokowi) tidak bisa mengobati luka ummat Islam yang ditimbulkan pada bulan-bulan kemarin. Meskipun Jokowi sedang nampak berusaha untuk kembali mendekati sejumlah ulama termasuk alumni 212.

Politikus PKS ini mengatakan, Jokowi hanya nampak sibuk bekerja. Padahal kata Fahri, sebuah Negara juga butuh ketegasan dari Presiden hingga nampak jelas arah bangsa ini.

Kesibukan Jokowi dianggap salah arah. Jokowi hanya sibuk kerja bagi-bagi sepeda, juga mencampur adukkan pekerjaan lurah.

Berikut cuitan lengkap Fahri Hamzah dilansir dari akun sosial medianya.

PAK JOKOWI, RAKYAT MAKIN TAK BISA DITIPU CITRA

Kepemimpinan pak @jokowi tidak bisa mengobati luka Ummat Islam, meski nampak sekali berusaha. Karena beliau tidak paham luka Ummat Islam yang ia timbulkan kemarin-kemarin.  Maka luka terus menganga. Ini bukan soal 212 tetapi sesuatu yang mengalir dalam rasa.

Kepemimpinan memerlukan narasi. Sebuah bangsa tanpa narasi tinggal tunggu waktu tenggelam. Itulah yang mencemaskan dari kepemimpinan sekarang.
Nggak pernah menjelaskan kita mau ke mana. Sibuk kerja bagi sepeda dan kerja yang harusnya kerjaan Lurah dan pemborong.

Ada yang anggap ini benar..Kesibukan presiden dianggap kesibukan yang benar padahal itu kesibukan salah arah.  Presiden itu presiden bukan Walikota. Dia tidak boleh nampak sibuk menjadi mandor atau petugas pelayanan birokrasi. Kesibukannya adalah Presidensial.

President dan Presidential adalah istilah yang di-nisbatkan kepada jabatan dan standar kapasitas tertentu.
Makanya muncul istilah “Presidential Look” karena dia harus juga nampak dan dapat dilihat. Bukan saja akibat sistem pemerintahannya tapi standar tindakannya.

Saya tidak mau meneruskan nasehat ini tapi percayalah bahwa ujian pada pak @jokowi adalah itu. Seleksi rakyat akan semakin presidensial.

Sementara beliau semakin tidak nampak dibantu untuk tampil dengan standar Presidential. Itulah salah satu alasan beliau bisa tertolak.

Ekspektasi rakyat terhadap figur Presidens makin tinggi. Dan citra makin tak berguna.
Sepandai-pandai sembunyikan wajah asli tetaplah akan tersingkap. 4 tahun cukup untuk membaca siapa presiden kita sebenarnya.

Sesekali pengen melihat Presiden @jokowi duduk di @ILC_tvOnenews dipandu @karniilyas dan berdebat dengan @rockygerung atau @anismatta tentang Arah Bangsa; atau dengan saya dan Prof @romliatma tentang korupsi atau yang lain.

Pengen lihat presiden mempertahankan pendapatnya sebab tidak pernah.  Dan lingkar dalam-nya pun tak ada yg berani mewakili pikiran bos-nya sebab jangan-jangan memang tak ada pikiran.  Sejak debat Pilpres yang dangkal di 2014 pemenuhan janji tak ada forumnya lalu kita kerja apa?

Sekarang presiden sedang mendelegasikan perdebatan. Saya minta 1 slot; perdebatan tentang apa yang sudah dilakukan oleh pemerintahan ini dalam 4 tahun berantas korupsi dan apa rencana ke depan. Saya siap ikut meramaikan.

Rasanya kita terlalu toleran terhadap masalah yang tidak diselesaikan tapi terus ramai sebagai persoalan.

Kalau ditanya jawabannya sederhana, “pemerintah sedang giat bekerja” padahal bekerja menghabiskan biaya tanpa hasil. Atau dijawab “dari dulu juga gitu!”. Dll..

Sekarang, mari kita berterus terang saja. Ungkapkan kebenaran apa adanya. Mari berdebat mengurai persoalan bangsa.

Demi rakyat pemilik kedaulatan. Jangan bersembunyi dibalik citra. Ayo bermain di gelanggang terbuka. Ini aku, dimana kamu? (**)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment