Prosesi Ma’badong, Warga Toraja Buktikan Kepedulian NH Soal Rambu Solo

Senin, 30 April 2018 - 16:22 WIB

FAJAR.CO.ID, TATOR — Frederik Manuk Rante, salah satu warga Lembang Buntu La’bo’, di Dusun Pa’tangga, melaksanakan prosesi Ma’badong. Dilakukan dengan maksud mendoakan keluarganya yang meninggal dunia, dalam acara pemakaman almarhum Damaris Rande Pakambanan.

Ma’badong adalah tarian asal Tana Toraja yang hanya bisa dilakukan saat ada kematian. Salah satu prosesi jelang pelaksanaan Rambu Solo. Tujuannya untuk mendoakan orang meninggal agar arwahnya diterima di alam baka.

Menjadi keunikan ketika Frederik mengundang para Pa’badong (peserta tarian). Kostum pemenangan pasangan Nurdin Halid-Aziz Qahhar Mudzakkar (NH-Aziz) tampak dikenakan oleh para Pa’badong.

Hal itu juga terekam dalam video amatir pada pelaksanaan Ma’badong, salah satu prosesi dalam pelaksanaan rambu solo untuk pemakaman almarhum Damaris Rande pada April 2018.

Dalam video berdurasi kurang lebih satu menit itu, terlihat puluhan warga bergandengan tangan membentuk suatu lingkaran. Mereka kompak mengenakan baju kaos kuning bergambarkan NH-Aziz.

Frederik menyatakan, kompaknya para Pa’badong mengenakan kostum tersebut, sebagai bukti bahwa NH-Aziz adalah sosok pemimpin yang peduli dengan adat dan budaya di Toraja. Ia menegaskan, jika pemberitaan soal kekeliruan NH dalam kuis debat kandidat, hanya dimanfaatkan pihak kandidat lain untuk menjatuhkan elektabilitas NH-Aziz di Toraja.

“Cuma dipakai menyerang saja itu. Intinya keliru jika menyebut NH tidak mengerti dan menghormati adat istiadat Toraja. Sebaliknya, NH merupakan kandidat yang paling peduli dan paling paham,” ucap Frederik, Senin, 30 April 2018.

Menurutnya, NH bisa dibilang tidak dapat terpisahkan dengan Toraja. Apalagi cucu dan menantunya berdarah Toraja. Olehnya itu, ia meyakini, NH saat itu hanya keliru dalam mendengar pertanyaan, bukan keliru dalam menjawab.

Sekadar diketahui, prosesi Ma’badong berisi ratapan-ratapan kesedihan dan kenangan hidup sang mendiang selama hidupnya di dunia. Diungkapkan dalam syair-syair berbahasa Toraja, dengan bentuk nyanyian tanpa iringan alat musik.

Para pa’badong dipimpin oleh seorang pemimpin yang menguasai syair-syair badong dan lihai dalam menyanyikannya. Nyanyian badong terdiri atas empat jenis yang dinyanyikan secara berurut sesuai dengan fungsinya, yaitu badong nasihat, badong ratapan, badong berarak, dan badong selamat (berkat). (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.