Banyak Data TKA Dimanipulasi, Gubernur Sulteng Mengaku Kewalahan

Jumat, 4 Mei 2018 - 10:13 WIB
Ilustrasi. Sebanyak 19 pekerja asal Tiongkok diamankan Imigrasi Kelas IIA Bogor, Jawa Barat, beberapa waktu lalu. (Foto: Fadli/Metropolitan/JPG)

FAJAR.CO.ID — Gubernur Sulawesi Tengah (Sulteng), Longki Djanggola, angkat bicara terkait polemik Tenaga Kerja Asing (TKA). Ditemui saat menghadiri kegiatan di Kabupaten Parimo, ia menjelaskan peran dari Pemprov Sulteng.

Longki menjelaskan bahwa maksud dari Perpres 20 ingin mengatur penempatan TKA di Indonesia. “Cuma memang kelihatannya dalam pelaksanaannya ini bermasalah. Khususnya di dalam pengawasan,”jelasnya.

Ia mengatakan, mengapa bermasalah? Karena Perpres tersebut mengaturnya terlalu birokratis. Ia mencontohkan berapa Rencana Penempatan Tenaga Asing (RPTKA) yang diminta oleh investor tersebut diminta melalui Kemenaker. “Oleh Kemenaker kemudian memutuskan sekian. Tetapi kami di daerah tidak mengetahui berapa banyak yang disetujui,” ungkap Longki.

Artinya, menurut mantan Bupati Parimo dua periode tersebut, bahwa koordinasi yang masih kurang. “Kami hanya disuruh jaga, tapi menjaganya seperti apa?”tandasnya.

Imigrasi di Sulteng saja, kata Longki, baru tahun ini berfungsi di Morowali. Sehingga bagaimana mengawasinya? Sementara TKA ada yang masuk dari Kendari dan Sulawesi Selatan.

“Bagaimana cara mengawasinya? Coba ajari saya,” tuturnya.

Longki juga sangat menyayangkan masih ada perilaku dari para investor yang memanipulasi data. Seperti yang ditemukan Ombudsman RI, bahwa banyak TKA buruh kasar, yang seharusnya menjadi porsinya tenaga kerja lokal, diambil oleh TKA. “Itu yang menjadi persoalannya,” tandasnya.

Ke depannya Pemprov akan meningkatkan pengawasan. Pihaknya juga sudah beberapakali berusaha mendeportasi TKA. Namun hanya terkait izin, misalnya tidak ada izin tinggal, kerja yang ditemukan.

Akan tetapi, persoalan kualifikasi tenaga kerja itu yang tidak ditemukan, tidak diketahui. “Biasanya data-data mereka pakai masuk ke Indonesia, padahal sebenarnya dia (TKA) tenaga kerja kasar. Tapi mungkin di dalam form pendaftaran dia pakai seolah-olah dia tenaga skil,” paparnya. (iwn/jpg)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.