Sapi Magetan Bikin Bangga, Mentan: Andai ada 3 Provinsi Seperti Ini, Persapian Indonesia Aman!

0 Komentar

FAJAR.CO.ID MAGETAN– Kabupaten Magetan dan keseluruhan Jawa Timur merupakan wilayah yang ikut memasok 40 sampai 50 persen dari total sapi di Indonesia.

Berdasarkan data dari Pemerintah Daerah Kabupaten, populasi ternak sapi di Magetan sebanyak 118.054 ekor atau menyumbang sekitar 7,9 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Magetan.

Pada triwulan satu 2018, ternak sapi potong sebanyak 127.640 ekor, sapi perah 295 ekor, kambing 41.793 ekor, domba 35.555 ekor, unggas dari berbagai jenis 6,8 juta ekor dan kelinci lebih sekitar 52 ribu ekor.

Atas pencapaian itu, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman merasa bangga dengan semangat para peternak di Kabupaten yang dijuluki Kota Kaki Gunung itu.

“Magetan dan Provinsi Jawa Timur ini 50 persen dari total sapi yang lahir seluruh Indonesia. Andaikan ada tiga provinsi seperti Jatim, persoalan sapi di Indonesia bisa selesai,” kata Amran dalam acara Panen Pedet di Lapangan Cepoko, Magetan, Senin (7/5).

Terdapat sebanyak 1.100 pedet atau anak sapi yang lahir di Kabupaten Magetan. Kelahiran anak sapi ini merupakan hasil perkawinan silang sapi-sapi lojak dan limosin dengan bobot  berkisar antara 700 kg sampai 1,3 ton pada umur 1 sampai 2 tahun.

Lebih jauh Menteri Amran mengatakan, kebutuhan protein hewani tidak hanya dari daging sapi saja, akan tetapi bisa dari daging ayam, telur, daging kelinci, kambing dan domba, serta hasil ternak lainnya.

Menurutnya, target swasembada protein sebenarnya sudah tercapai karena Indonesia sudah mengekspor hasil peternakan. Indonesia sudah mampu mengekspor sejumlah produk peternakan bernilai strategis ke beberapa negara, seperti: olahan daging ayam, pakan ternak, telur tetas ayam ras/persilangan, kambing/domba, vaksin dan obat hewan, serta produk pangan hewani lainnya. Sejauh ini, keseluruhan peternakan Indonesia sudah mampu menembus lebih dari 110 negara.

“Tiga hari lalu, kita ekspor perdana DOC (Day Old Chicken) ke Timor Leste, setelah sebelumnya kita ekspor daging ayam olahan ke Jepang sebanyak 12,5 ton, Papua Nugini 24 ton dan Timor Leste 6,6 ton,” papar Amran.

Amran menyebutkan, sejak tahun 2015 Indonesia juga telah melakukan ekspor telur tetas ayam dengan jenis ayam ras ke Myanmar, dan hingga Maret 2018 jumlah komulatif yang sudah diekspor sebanyak 10.482.792  butir dengan nilai Rp.109,60 Miliar, dan pada minggu lalu, Indonesia mulai ekspor perdana telur tetas ayam persilangan ke Myanmar.

Berdasarkan data BPS, capaian ekspor sub sektor peternakan di Indonesia sangat fantastis, ekspor daging ayam tahun 2017 sebesar 325 ton (meningkat 1800% dibandingkan tahun 2016), sedangkan ekspor  telur unggas sebanyak 386 ton (meningkat 27,39% dibanding tahun 2016).  “Dan yang tidak kalah menarik lagi pada bulan April lalu kita sudah menginisiasi ekspor bibit kelinci ke Malaysia,” ungkap Mentan Amran.

“Intinya kita ini kaya akan sumber protein hewani,” imbuhnya.

“Saya ingin Indonesia sejajar dengan negara maju lainnya, untuk itu saya meyakini bahwa dengan majunya pengembangan komoditas peternakan ke depan, dapat saya pastikan sumber daya generasi kita mendatang akan menjadi lebih baik, terutama dengan adanya ketersediaan dan banyaknya pilihan protein hewani bagi masyarakat,” ucap Mentan Amran.

Menteri Amran memberikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Magetan dan Pemprov Jawa Timur yang selama ini memiliki komitmen tinggi untuk meningkatkan populasi sapi potong di tingkat peternak melalui Upsus Siwab (Upaya Khusus Sapi Indukan Wajib Bunting).

“Kita lihat dengan adanya kelahiran pedet-pedet yang ditampilkan pada acara Panen Pedet ini adalah bukti nyata keberhasilan Upsus Siwab,” kata Mentan Amran sambil menunjukkan pedet-pedet hasil IB sebanyak 1.200 ekor yang ditampilkan oleh para peternak Kabupaten Magetan.

“Ini merupakan jaminan yang menunjukan bahwa Indonesia mampu secara terus menerus berkelanjutan menghasilkan ternak sapi,” ujarnya.

Mentan Amran merasa optimis cita-cita Indonesia menjadi lumbung pangan Dunia akan dapat terwujud, jika pencapaiannya seperti Provinsi Jawa Timur khususnya Kabupaten Magetan yang merupakan salah satu gudang ternak di tanah air.

Lebih lanjut Mentan Amran menyebutkan, sejak pemerintahan Jokowi-JK, Pemerintah mengratiskan semen beku kepada lima juta sapi.

“Jika nanti pedet-pedet itu besar, beratnya dapat mencapai satu ton lebih dengan harga rata-rata 50 juta rupiah,” kata Amran sambil menunjuk sapi-sapi ekstrim seberat 1 ton lebih yang ditampilkan saat acara Panen Pedet.

“Modalnya hanya sperma sapi harganya 50 ribu, tapi kalau sudah lahir harganya bisa 10-15 juta. Ini baru namanya beternak dengan cerdas sesuai harapan peternak,” tambahnya.

Saat ini, Kementan juga telah membuat gebrakan baru guna mengentaskan kemiskinan di desa: Program Bekerja atau Bedah Kemiskinan Rakyat Sejahtera. Untuk sub sektor peternakan, akan difasilitasi melalui kegiatan bantuan pemerintah berupa ayam sebanyak 10 juta ekor, serta hewan ternak lainnya seperti kelinci dan kambing/domba.

Pada kesempatan yang sama, Menteri Amran Sulaiman juga memberikan bantuan ternak di Desa Tanjungsari Kecamatan Panekan melalu program  Beda Kemiskinan Rakyat Sejahtera (bekerja). Bantuan itu berupa kelinci sebanyak 500 ekor kepada 25 petani miskin dengan masing-masing rumah tangga memperoleh 20 ekor kelinci.

“Beternak kelinci ini peluang usahanya besar dan potensinya luar biasa untuk dikembangkan karena semakin banyaknya permintaan,” kata Mentan Amran.

“Masyarakat saat ini sudah mulai pintar memilih daging untuk dikonsumsi, misalnya daging kelinci ini meski serat dan proteinnya tinggi, tapi rendah kalori, lemak dan kolesterol bila dibandingkan dengan daging ayam, sapi, kambing/domba dan babi, ini potensi yang luar biasa,” ungkap Mentan Amran.

“Magetan ini dulunya adalah lumbung ternak kelinci, dengan program Bekerja ini kita ingin balikkan lagi Magetan menjadi Lumbung Ternak Kelinci seperti dulu lagi,” pungkasnya.

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment