Anak Gajah Dirantai di Penangkaran, Ini Tanggapan BKSDA Balikpapan

Sabtu, 12 Mei 2018 - 16:38 WIB

FAJAR.CO.ID — Sebuah komunitas peduli satwa yakni Jakarta Animal Aid Network menyoroti anak gajah di penangkaran Teritip yang dikelola oleh PT Surya Raya Teritip melalui akun instagramnya. Mereka menghujat pengelola yang merantai seekor anak gajah kemudian dipisahkan oleh induknya tersebut.

Mereka pun menuding pihak pengelola tidak punya izin resmi dalam mengelola gajah.

Hal ini pun mencuat hingga ke sejumlah pihak terkait di Balikpapan tanpa terkecuali BKSDA (Balai Konservasi Sumber Daya Alam) seksi Balikpapan yang ikut menyorot permasalahan ini.

Staff BKSDA Balikpapan, Amos mengatakan, apa yang diposting tersebut tak sepenuhnya benar, di mana seekor anak gajah yang dirantai tersebut memang merupakan anak gajah hasil kembang biak pengelola di tempat tersebut.

Di mana dua ekor gajah sepasang dibawa dari Sumatera lalu dirawat di Teritip. Saat dirawat sang betina melahirkan anak gajah tersebut, namun beberapa tahun kemudian sang jantan mati. Oleh pengelola, anak gajah yang diperkirakan berusia 14 tahun ini dirantai hanya untuk mencegah terpisah dari induknya.

“Kalau soal yang anak gajah tidak ada indukannya itu tidak benar. Itu memang anak gajah yang pada saat itu memang melahirkan di sana. Sedangkan untuk masalah gajah itu dirantai itu artinya dia dirantai untuk dia ditempatkan di kandangnya itu,” paparnya.

Sebenarnya, sambung dia, anak gajah yang dirantai itu hanya untuk di lingkungan situ aja. Sementara soal makannya telah disiapkan. “Kondisinya itu kan tidak dipisahkan hanya dikasih jarak saja, karena kalau dipisahkan jauh anaknya saling mencari,” katanya saat dihubungi kemarin.

Amos mengungkapkan, saat ini pihak pengelola tengah mengurus izin konservasi satwa di kawasan tersebut agar nantinya dapat dijadikan sebagai Taman Satwa. Sehingga tudingan terhadap izin satwa tersebut tidaklah benar.

“Nah ini PT Surya Raya juga mengajukan izin konservasi. Jadi bukan hanya gajah aja, nanti di situ ada hewan lain jadi semacam taman satwa gitu nantinya. Izin prinsipnya pun sudah keluar, saat ini dia lagi mengurus izin amdal dan lainnya,” ungkapnya.

Terkait permasalahan gajah tersebut dipakai sebagai wahana bagi pengunjung untuk menuggangnginya, Amos mengaku masih akan membahas hal itu bersama pimpinan. Meskipun menurut Amos di daerah lain sejatinya sah-sah saja melakukan hal tersebut sebagai tujuan wisata.

“Kalau untuk itu kami juga lagi nunggu instruksi pimpinan bagaimana kelanjutan dan ke depannya. Tapi kalau kita lihat ditempat lain kan adajuga untuk sebagai tempat wisata,” tutur dia.

Sementara itu para pengamat lingkungan dari STABIL yakni Jufri mengatakan, kawasan Teritip memang dinilai tidak cukup representatif bila dijadikan taman satwa. Luasan dan fasilitasnya perlu ditingkatkan lagi sehingga butuh dukungan dari pemerintah untuk mencarikan solusinya.

“Kawasan wisata Teritip itu emang dianggap kurang layak karena membuat habitat mini gajah ruangannya tidak mencukupi. Dilemanya Balikpapan ini kekurangan kawasan wisata, jadi perlu dilakukan perluasan agar representatif. Yang jadi masalah di situ lahannya cukup atau tidak, harus dicarikan solusi,” pungkasnya. (yad/yud)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.