Dianggap Kumuh, Pasar Buku Murah akan Digusur

  • Bagikan

Batas waktu untuk mengosongkan bangunan toko bahkan sudah ditetapkan. Per tanggal 19 April lalu, mereka diharuskan minggat. Tapi pedagang masih kompak bertahan.Seperti pengusaha jasa percetakan dan desain grafis Pasar Sukaramai, Nuri Syuhud Haridi yang bertekad ingin bertahan. Sampai mendapat kejelasan mengenai ganti rugi yang sepadan. Ia mengaku sakit hati atas terbitnya somasi.Pria yang punya julukan Ari Gondrong ini pemilik petak toko nomor 34 di Pasar Sukaramai. Dibelinya dari pedagang terdahulu seharga Rp12 juta. “Nah, saya ditawari Rp10 juta saja untuk tali asih. Tidak diberikan ganti rugi, alasannya karena belum balik nama,” terangnya.Ari Gondrong berharap pemilik tanah tak mengurusi lagi lahan yang sudah ditempati pedagang. Hemat kata, dia ingin pembongkaran dibatalkan. “Anggap saja tanah wakaf. Kami toh bayar sewa tanah setiap bulan,” tukasnya.Kalau tetap dibongkar, Ari yakin pedagang Kampung Penatu bakal tercerai-berai. Padahal, selama ini mereka saling mengisi rejeki satu sama lain. “Misal, kalau percetakan lagi perlu bahan kertas, di sebelah menjual. Jasa pemotongan kertas juga ada. Jadi tidak bisa dipisahkan,” kata dia.Akhirnya, nama beken Kampung Penatu ikut terberangus. Padahal, nama pasar ini sudah dikenal baik pengusaha percetakan dari Pulau Jawa. “Khususnya Surabaya. Sayang sekali kalau digusur,” ujarnya.Total toko Pasar Sukaramai berjumlah 45 petak. Dimiliki oleh 23 orang. Dalam konflik ini, pedagang diadvokasi Borneo Law Firm. Dipimpin oleh kuasa hukum Muhammad Pazri.

  • Bagikan