Komisi IV DPR Dukung Pemerintah Tingkatkan Kerjasama dengan Petani

Selasa, 15 Mei 2018 15:08

FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Komisi IV DPR mendukung penuh upaya pemerintah dalam meningkatkan kerjasama dan sosialisasi, khususnya kepada petani dan semua stakeholder terkait.Demikian penegasan Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Viva Yoga Mauladi pada diskusi publik yang digelarBidang Hubungan Antara Lembaga Majelis Nasional (MN) KAHMI, Senin (14/5) di KAHMI Center Jl Turi I No 14 Kebayoran Baru Jakarta Selatan.Diskusi yang bertajuk Peran Inovasi Teknologi dalam Peningkatan Daya Saing Pertanian Nasional itu, merupakan salah satu program kerja bidang pertanian Majelis Nasional (MN) KAHMI. Selain Viva, turut jadi narasumber Kepala Balitbang Kementerian Pertanian RI, Dr Muhammad Syakir, Asisten Deputi Bidang Usaha Industri Agro dan Farmasi Kementerian BUMN, Purnomo Sinar Hadi; Rektor IPB Dr Arif Satria, Rektor Universitas Al-Azhar JakartaProf Dr Asep Sarfuddin dengan moderator Ketua Bidang Pertanian MN KAHMI, Fatah Yasin.Menurut Viva Yoga, komisi IV juga mendukung pemerintah untuk mengembangkan dan meningkatkan program desa mandiri, kedaulatan, kemandirian dan ketahanan pangan. Ia menambahkan, usaha pertanian kehutanan dan perikanan pada struktur Ekonomi Indonesia Triwulan I-2018 memberikan peran sebesar 13 dalam PDB Nasional (Sumber: BPS).Sementara pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan I-2018 terhadap triwulan IV-2017 diwarnai faktor musiman pada lapangan usaha pertanian, kehutanan, dan perikanan yang tumbuh ekspansif sebesar 16,36 %.Namun demikian, lanjutnya, komoditas pertanian masih rentan terhadap kondisi perekonomian global.Komoditas yang bergantung pada pangsa ekspor umumnya lebih rentan dan berisiko lebih buruk dibandingkan dengan komoditas yang mampu memiliki pangsa alternatif pasar domestik yang lebih besar.Sementara itu, Purnomo Sinar Hadi mengakui, Indonesia masih menghadapi tantangan pangan dengan menempati peringkat 69 dalam indeks ketahanan pangan versi FAO dibawah Singapura, Malaysia, Vietnam, Thailand. “Lahan untuk tanaman pangan sangat sempit,” bebernya.Hanya 314 m2/kapita pada 2016 lalu dan diperparah semakin besarnya alih fungsi lahan pertanian ke non pertanian. Selama periode 2012-2017 tahun terakhir ini, katanya, lahan pertanian pangan (sawah) yg menghidupi puluhan juta petani hanya bertambah 0,06% .Dari 8 juta lahan sawah sekitar 40% saluran irigasi mengalami kerusakan.Hal ini tentunya berdampak pada kapasitas produksi.Petani skala kecil tidak mampu memaksimalkan output produksi. Rata- rata kepemilikan lahan petani Indonesia hanya 0,8 hektar.“Sehingga membatasi akses petani ke benih dan pupuk bersubsidi, kredit perbankan, alat pertanian modern, pengetahuan dan akses pasar serta mekanisasi pertanian,” imbuhnya. (*)

Bagikan berita ini:
9
2
10
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar