Siang Puasa Ramadan, Malam Memulung Sampah

0 Komentar

Bulan Ramadan yang sebentar lagi dijelang, menjadi berkah tersendiri bagi seluruh umat Islam. Tak terkecuali bagi para kaum duafa.

=======================
Laporan: Nugroho Nafika Kassa
=======================

INA menjadi salah satu contoh orang cukup memaknai bulan ramadan. Walau dirinya hanya seorang pemulung, wanita usia 31 tahun ini tak pernah khawatir akan asupan makanan yang ia santap. Karena baginya, selalu saja ada rezeki di balik setiap puasanya.

Ina tinggal di Jalan Borong Jambu, dekat dengan kompleks Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah Tamangapa, Antang. Rumah yang ia tempati kini bisa dibilang sebuah gubuk kecil yang ada di sudut jalan. Terbuat dari kayu dengan atapnya dari beberapa seng bekas.

Sejak tahun 2000, Ina telah mulai memulung bersama suaminya. Rumahnya dikelilingi oleh sampah. Wajar saja, karena semua hasil memulungnya dikumpulkan di rumahnya. Semuanya adalah sampah botol plastik.

Saat BKM mengunjungi, perempuan asal Kabupaten Maros ini sedang mengasuh anak bungsunya. Terlihat anak keduanya sedang memilah-milah sampah hasil memulung Ina. Suaminya sedang tidur usai memulung pula.

Ya, suami Ina bernama Suardi juga seorang pemulung. Begitupun dengan keempat anaknya yang juga memulung. Semuanya putus sekolah. Ina bilang mereka lebih memilih memulung daripada bersekolah.

“Karena teman-temannya juga memulung, jadi anakku juga lebih mau memulung. Tidak mau lanjutkan sekolahnya. Kurang-kurangi juga biaya toh,” cetusnya.

Saat mulai ramadan, atau bahkan Idul Fitri, Ina tetap berada di rumahnya. Tak mengikuti tradisi pulang kampung yang kerap dilakukan oleh sebagian besar umat muslim.

Ia melakukan hal itu bukan tanpa alasan. Penyebabnya adalah masalah biaya. Padahal jika dipikir, kampung halamannya berbatasan langsung dengan Kota Makassar, yaitu Kabupaten Maros.

“Disinija kalau puasa. Lebaran juga di sini biasa. Kalau ada uang ya pulang kampung. Tapi lebih sering di sini,” ucapnya.

Saat ramadan, Ina mengatakan jika dirinya tetap menjalankan ibadah puasa. Sehingga mengharuskan dirinya mengatur aktivitas memulungnya.

Jika biasanya ia pergi memulung saat siang hari, berbeda ketika bulan puasa tiba. Ina harus melakukannya saat malam hari. Alasannya, karena dirinya saat ini telah lemah dan tak sanggup jika harus berjalan kaki memulung di bawah teriknya matahari.

“Tidak sanggupma saya kalau siang. Sakitka biasa. Capek sekali. Jadi biasa malampi mulung kalau lagi puasa,” tambahnya dengan dialek khas Makassar.

Hasil dari memulung itulah yang biasa ia belikan bahan makanan untuk sahur bersama suami dan anaknya. Namun jika ia tak mendapat penghasilan yang cukup, biasa ada beberapa tetangganya yang saling memberikan makanan.

Jika waktu berbuka puasa tiba, ia membawa serta keluarganya untuk berbuka puasa bersama di sebuah masjid dekat rumahnya. Kebetulan setiap harinya di masjid tersebut selalu menggelar buka bersama dengan warga sekitar.

“Iye Alahamdulillah, ini masjid yang dekat selaluki buka bersama. Jadi bisaka bawa anak-anakku ke situ,” ucapnya dengan raut muka sendu.

Ina berharap jika dirinya diberikan bantuan, baik oleh masyarakat, atau oleh pemerintah. Bantuan apapun, dikatakan Ina, akan ia terima karena memang dirinya hidup penuh dengan keterbatasan. Apalagi selama ini tak pernah sekalipun dirinya mendapat bantuan.

“Ndak pernahka saya dapat bantuan. Dari pemerintah ndak pernah juga. Kalau yang lain biasa kuliat dikasihji. Saya belum pernah,” tutupnya. (*/rus/b)

 

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...