Teroris Musuh Bersama, Jangan “Islamophobia” Kemudian!

  • Bagikan

Korban tragedi bom berdarah pada 13 dan 14 Mei 2018 di Surabaya dan Sidoarjo, Jawa Timur, mencapai 25 orang. 13 di antaranya adalah para tersangka pelaku terorisme. Lalu, apa setelah itu?

================

NEGERI ini berduka oleh rentetan aksi peledakan bom di Surabaya dan Sidoarjo, Provinsi Jawa Timur. Publik kaget bukan main bahwa kembali terjadi aksi bom bunuh diri yang merenggut banyak nyawa, melukai puluhan korban tak bersalah, dan membuat 200 juta rakyat Indonesia saling mencurigai.Mengenaskan karena pelaku teror melibatkan anak-anak dalam aksinya. Terdengar tidak masuk akal, tapi demikianlah. Sebuah tindak kejahatan kemanusiaan yang benar-benar brutal. Keji.Siapa sebenarnya para pelaku teror yang biadab ini? Apa tujuannya? Apakah mereka beraksi hanya untuk memunculkan ketakutan?Mantan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Ansyaad Mbai, menjelaskan, sejatinya gerakan teroris bermuatan politik ideologi.Meski tidak ada definisi resmi mengenai hal tersebut, namun Ansyaad yakin seluruh negara telah sepakat bahwa terorisme dan radikalisme sendiri mengandung motif politik.“Terorisme itu memang kontennya politik, tetapi dikecualikan dari tindak pidana politik,” ujar Ansyaad dalam diskusi Nasib Pembahasan RUU Terorisme di Hotel Atlet Century Park, Senayan, Jakarta, Senin (14/5/2018). (BACA: Mantan Kepala BNPT: Teroris Adalah Aksi Politik Berselubung Agama)Sementara, Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) menilai bahwa pelaku teror bom tidak mempunyai agama. Terlihat dari kejadian sebelumnya di Mako Brimob. Ditambah lagi adanya bom di tiga gereja di Surabaya, lalu di Mapolrestabes Surabaya.

  • Bagikan