Demokrat Sebut Presiden SBY Bikin Indonesia Gemilang

0 Komentar

FAJAR.CO.ID, JAKARTA- Politisi Partai Demokrat (PD), Putu Rudana angkat bicara soal survei yang dilakukan oleh Indo Barometer beberapa waktu lalu, khususnya terkait tingkat kepuasan publik atas kinerja presiden yang pernah memimpin negara ini dengan tema ‘Evaluasi 20 Tahun Reformasi’.

Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) PD ini menegaskan, pemerintahan sejak 1998 hingga tahun 2018 merupakan sebuah kesatuan. Adapun era kegemilangannya terletak pada era pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) selama 10 tahun.

“Pasca reformasi, di pemerintahan SBY-lah pertama kalinya presiden terpilih dalam proses demokrasi, itu menunjukan suatu konsep yang baik sejak 2004 lalu,” katanya di Jakarta, Minggu (20/5).

Ditegaskannya, justru pada era pemerintahan SBY lah pertumbuhan ekonomi bisa mencapai di atas 6 persen. Hal itu berdampak pada lapangan kerja yang semakin meningkat, pengangguran menurun, pendapatan income perkapita masyarakat meningkat tajam selama 10 tahun, pemberantasan korupsi dan penegakan hukum tidak tebang pilih.

“Dan keadilan ditegakkan kepada segenap anak bangsa dengan memberikan program BLT, BLSM, KUR, BPJS, raskin dan beberapa program lainnya. Sudah pasti masyarakat juga merindukan sosok SBY,” ungkap Putu.

Diketahui, berdasarkan hasil survei tingkat kepuasan masyarakat, Indo Barometer menempatkan Presiden Soeharto pada posisi pertama sebagai presiden yang paling berhasil di Indonesia. Hasil survei memperlihatkan Soeharto dipilih oleh 32,9 persen responden. Disusul Presiden Soekarno dengan 21,3 persen, Joko Widodo dengan 17,8 persen, Susilo Bambang Yudhoyono 11,6 persen,  BJ Habibie (3,5 persen, Abdurrahman Wahid 1,7 persen, Megawati Soekarnoputri di posisi akhir dengan 0,6 persen.

Margin of error dari survei ini sebesar 2,83 persen. Survei ini dilakukan di 34 provinsi di Indonesia. Jumlah sampel 1.200 responden, dengan margin of error sebesar kurang lebih 2,83 persen, adapun tingkat kepercayaan sebesar 95 persen.

Direktur Eksekutif Indo Barometer, M Qodari mengatakan, penarikan sampel yang digunakan adalah dengan multistage random sampling. Waktu pengumpulan data pada tanggal 15-22 April 2018. Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara tatap muka responden menggunakan kuesioner.

Qodari menegaskan bahwa hasil survei tersebut hanya sebatas opini masyarakat saja. Sehingga, meski masyakat yang tidak merasakan pada masa pemerintahan presiden sebelumnya, bisa dinilai dari persepsinya.

“Ini tidak harus mengalami sendiri untuk memberikan opini, orang bisa punya persepsi sendiri,” kata Qodari.[dem]

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...