Rilis 200 Mubalig, Kementerian Agama Dinilai Cacat Secara Metodik

Minggu, 20 Mei 2018 15:40
Belum ada gambar

FAJAR.CO.ID, JAKARTA– Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon mengatakan, 200 mubalig yang direkomendasikan Kementerian Agama (kemenag) dikhawatirkan hanya dapat menimbulkan perpecahan antara golongan satu dengan golongan yang lainnya.Ia meminta, kemenag seharusnya bisa menjadi penengah yang baik di tengah keberagaman pemahaman dan keyakinan. Bukan justru menimbulkan segregasi di tengah masyarakat.”Rilis 200 nama penceramah atau mubaligh yg direkomendasikan oleh Kemenag, dikhawatirkan hanya akan menguatkan segregasi yang ada di tengah masyarakat. Di tengah pluralitas pemahaman dan keyakinan keagamaan yang ada di tengah masyarakat Muslim Indonesia, Kemenag mestinya bisa menjadi moderator yang bijak,” kata Fadli Zon dilansir dari akun twitternta, Minggu (20/5/2018).Ia menilai, kebijakan Kemenag dengan merilis 200 mubalig merupakan kebijakan yang tak bisa diterima, kebijakan yang cacat secara metodik.”Jangankan untuk level Indonesia, di Jakarta saja, yang memiliki ribuan masjid, mushola, dan majlis taklim, ada ribuan ustad dan mubaligh di sana,” kata Fadli Zon.”Katakanlah jumlah mubaligh atau ulama itu sekitar 5 persen dari populasi Muslim yang 200 juta, maka jumlahnya ada sekitar 10 juta orang. Bagaimana @Kemenag_RI mengeluarkan rilis 200 nama dari 10 juta orang tadi? Bagaimana menyaringnya?,” sambung Fadli.Ia melanjutkan, kebijakan itu bisa menimbulkan kecurigaan publik bahwa rilis daftar penceramah itu sebagai bagian dari sensor terhadap para penceramah atau ulama yang tak sehaluan dengan pemerintah.“Apalagi dalm daftar itu tidak tercantum sejumlah nama mubaligh terkemuka yang dikenal kritis terhadap pemerintah. Kebijakan semacam ini hanya akan kian mengeraskan segregasi yang ada di tengah masyarakat saja,” jelasnya. (dal/fajar)

Bagikan berita ini:
10
5
1
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar