Waspada! 6 Makanan Takjil Terindikasi Mengandung Boraks

Minggu, 20 Mei 2018 - 04:21 WIB
Petugas BBPOM Aceh menguji sampel makanan dan minuman yang diambil dari penjual takjil di Kota Banda Aceh. (Foto: Murti Ali Lingga/JawaPos.com)

FAJAR.CO.ID — Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Aceh melakukan uji laboratorium terhadap makanan berbuka puasa atau takjil. Setidaknya ada 64 sampel makanan yang diambil dari pedagang.

Hasilnya, 6 jenis makanan takjil terindikasi mengandung zat berbahaya dan terlarang.

Kepala BBPOM Aceh, Zulkifli, mengatakan, puluhan sampel takjil diambil dari pedagang atau penjual yang terseber di beberapa lokasi di Kota Banda Aceh. Sampel-sampel yang diperoleh lalu diuji di dalam mobil Laboratorium BBPOM Aceh untuk membuktikan kandungannya.

“Enam (makanan takjil) diduga mengandung boraks dan akan dilakukan uji lanjut (penegasan) di laboratorium BBPOM,” kata Zulkifli di Banda Aceh, Sabtu (19/5).

Pada hari pertama, BBPOM Aceh melakukan razia sekaligus uji laboratorium terhadap takjil di tiga lokasi berbeda. Pertama di depan Masjid Lhong Raya, Kecamatan Banda Raya dengan mengambil sebanyak 20 sampel. Hasilnya, 16 memenuhi syarat (MS) dan empat tidak memenuhi syarat (TMS). Makanan mie diduga mengadung boraks.

Kedua di Gampong Lampaseh, Kecamatan Meuraxa. Petugas BBPOM mengambil sebanyak 22 sampel. Berdasarkan hasli uji leboratorium, 20 sampel di antaranya MS Serta dua lainnya TMS karena diduga mengandung bahan berbahaya jenis boraks. “Dua TMS boraks. Yanki, mie dan kerupuk tempe,” sebutnya.

Lokasi ketiga di kawasan Lamnyong, Kecamatan Syiah Kuala. Petugas menguji sebanyak 22 sampel. Hasilnya, semua sampel masuk katagori MS. Tidak ditemukan zat dan bahan bebahaya pada takjil yang diuji. “Ini kegiatan rutin. Ini adalah intensifikasi pengawasan makanan menjelang atau saat bulan puasa,” sambung Zulkifli.

BBPOM Aceh melakukan razia terhadap makanan untuk berbuka puasa. Pengujian dilakukan terhadap makanan yang diduga mengandung bahan berbahaya seperti formalin, boraks, rhodamin B, dan methanil yellow. “Jika ditemukan, kami akan telusuri di mana pembuatannya. Sanksinya itu di Dinas Kesahatan. Apakah pembinaan atau penutupan,” tandas Zulkifli. (mal/JPC)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.