Kontroversi Menteri Agama: dari 200 Mubalig, Hingga yang Puasa Hargai Tidak Puasa

Selasa, 22 Mei 2018 - 13:06 WIB
Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mendapat protes dari internalnya akibat rilis 200 mubalig. (Foto: Hendra Eka/Jawa Pos)

JAKARTA– 200 Mubalig rekomendasi Kementerian Agama (kemenag) menuai kontroversi. Menteri Agama Lukman Hakim, orang yang paling bertanggung jawab akan persoalan ini. Kebijakan menag ini, dinilai dapat mengkotak-kotakan para mubalig. Lukman Hakim menuai kecaman dari sejumlah pihak semenjak beberapa hari terakhir.
Bukan kali ini saja, Pernyataan mapun kebijakan Menag menuai kontroversi. Selema menjabat sebagai Menteri Agama, Politikus Partai Persatuan Pembangunan (PPP) ini, setidaknya ada 5 kontroversi yang dibuatnya. Seperti dilansir Jawapos, antara lain:

1. Mengkaji Baha’i Sebagai Agama Ketujuh
Pada Juli 2014, Menag Lukman menyatakan akan mengkaji Baha’i sebagai agama di Indonesia. Padahal hingga saat ini, pemerintah hanya mengakui enam agama yakni Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu.

“Kemenag saat ini sedang mengkaji hal tersebut. Masukan tentang hal ini sangat berarti bagi kami,” kata Menag dalam akun Twitter-nya kala itu.

2. Beri Sambutan di Peluncuran Buku tentang Syiah
Pada Maret 2015, Menag Lukman memberikan sambutan atas peluncuran buku ‘Syiah Menurut Syiah’. Buku itu berisikan bantahan terhadap buku yang dikeluarkan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI), yang berjudul ‘Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia’.

3. Pembacaan Ayat Alquran dengan Langgam Jawa
Pada Mei 2015, Presiden Joko Widodo (Jokowi) menggelar peringatan Isra Miraj Nabi Muhammad SAW di Istana Negara. Acara tersebut dibuka dengan pembacaan Alquran Surah An-Najm 1-15 oleh dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Muhammad Yasser Arafat.

Hal tersebut menuai polemik, karena pembacaan ayat itu menggunakan langgam Jawa mirip seperti sinden.‎ Menag Lukman pun dianggap bertanggung jawab atas acara tersebut.
Pasalnya pembacaan langgam Jawa adalah idenya. Dia mengaku langgam Jawa itu hanya untuk memelihara tradisi‎.

“Tujuan pembacaan Alquran dengan langgam Jawa adalah menhaga dan memelihara tradisi nusantara dalam menyebarluaskan ajaran Islam di tanah air,” kata Lukman.

4. Muslim Harus Hargai Umat Lain yang Tidak Puasa
Pada Juni 2016, Menag Lukman mengeluarkan komentar kontroversial. Dia meminta seluruh umat Islam untuk bisa menghargai yang tidak menjalankan ibadah puasa di Bulan Ramadan.

“Masyarakat muslim yang sedang menjalani puasa pun sebaliknya menghormati kalau ada sesama saudara yang tidak berpuasa,” tutur Lukman kala itu.

Pernyataan Lukman itu buntut dari peristiwa razia warung makan yang dilakukan oleh Satuan Polisi Pamong Praja di Serang, Banten.

5. Rilis Daftar 200 Mubalig
Pada Mei 2018, Menag Lukman mengeluarkan daftar 200 nama penceramah atau mubalig yang direkomendasikan bagi masyarakat. Penerbitan daftar penceramah itu karena meningkatnya permintaan dari masyarakat.

“Selama ini, Kemenag sering dimintai rekomendasi mubalig oleh masyarakat. Belakangan, permintaan itu semakin meningkat, sehingga kami merasa perlu untuk merilis daftar nama mubalig,” ujar Lukman.

Tantangan Terberat adalah Moderasi Agama
Sejumlah kebijakan dan pernyataan Menag Lukman yang seolah menjadi kontroversi sebenarnya sangat mungkin dialami pejabat lain, di tengah masyarakat Indonesia yang majemuk.

Dalam sebuah kunjungan bertajuk ‘Ngaji Kebangsaan’ beberapa waktu lalu, Lukman pun telah mengakui tantangan terberat sebagai seorang Menteri Agama adalah menjaga moderasi agama di tengah masyarakat yang plural.

Hal itu diakui Lukman ketika menjawab salah seorang mahasiswa ketika kunjungan ke Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo, Semarang. Mahasiswa itu bertanya bagaimana rasanya menjadi Menag.

“Pak Menteri, apa yang tersulit dan dirasakan saat menjadi Menag?” tanya salah satu mahasiswa saat sesi dialog Ngaji Kebangsaan di Semarang, Jumat (20/4).

Dengan senyuman, Lukman pun menyampaikan sebenarnya bukan kesulitan yang dihadapi. Tetapi, lebih tepat dikatakan sebagai tantangan sejak awal menjabat sebagai Menag.

“Tantangan terbesar bagi saya itu bagaimana kita tetap mampu menjaga dan merawat paham dan pengamalan ajaran agama, untuk senantiasa berada pada jalur moderasi,” kata Lukman.

Dia menjelaskan, saat ini hampir seluruh program Kemenag memiliki keterkaitan dengan moderasi agama. Lukman meminta agar masyarakat tidak memiliki paham dan bentuk pengamalan agama yang cenderung ekstrem.

“Moderasi itu mengajak mereka yang ekstrem baik terlalu liberal maupun konservatif, kembali ke tengah,” kata Lukman.

(gwn/JPC)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.