Gerindra: Jokowi Tumbang jika Dolar Tembus Rp 15 Ribu

0 Komentar

FAJAR.CO.ID — Politisi Gerindra, Ferry Juliantono, menyatakan, tidak ada pemerintahan yang kuat kalau dolar sudah tembus Rp 15 ribu. Ia mencontohkan hal ini seperti tahun 1998 di mana Soeharto tumbang setelah dolar membumbung tinggi.

“Sekarang Rp 14.200, sedikit lagi Rp14.500 kalau sudah Rp 15 ribu tidak ada yang kuat,” ungkap Ferry di hotel Atlet Century, Jakarta, Selasa, (22/5/2018).

Politisi yang dikenal kritis ini juga menyebut partai-partai pendukung pemerintahan Presiden Joko Widodo akan berpikir ulang jika dolar semakin naik. “Tembus Rp15 ribu jatuh itu pemerintah,” selorohnya.

Dampak inflasi dari akibat itu akan dirasakan oleh seluruh rakyat Indonesia. Ia mengaku sudah bertemu dengan para pedagang yang juga mengeluhkan inflasi ini.

“Kalau ada yang puas dengan pemerintah sekarang itu kan persepsi pemerintah saja,” pungkasnya.

Terpisah, analis PT Binaartha Sekiritas, Reza Priyambada, menilai masih dominannya penguatan USD membuat laju Rupiah kembali kehilangan momen untuk terapresiasi.

“Tetap waspada dengan berbagai sentimen yang dapat membuat Rupiah kembali melemah, terutama dari masih menguatnya laju USD terhadap pergerakan sejumlah mata uang lainnya seiring kembali meningkatnya imbal hasil obligasi AS. Rupiah diestimasikan akan bergerak dengan kisaran pada kisaran support 14.157 dan resisten 14.139,” ujarnya di Jakarta, Senin (21/5/2018).

Reza memaparkan, adanya anggapan terkait dengan pergerakan imbal hasil obligasi Amerika Serikat yang cenderung meningkat menjadi faktor yang menahan dana asing masuk ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia membuat laju Rupiah masih cenderung melemah.

“Padahal sehari sebelumnya, suku bunga acuan Bank Indonesia telah dinaikan 25 bps, sesuai perkiraan sebelumnya,” tuturnya.

Sebagai informasi, Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 16-17 Mei 2018 memutuskan untuk menaikkan BI 7-day Reverse Repo Rate sebesar 25 bps menjadi 4,50 persen, suku bunga Deposit Facility sebesar 25 bps menjadi 3,7 persen, dan suku bunga Lending Facility sebesar 25 bps menjadi 5,25 persen, berlaku efektif sejak 18 Mei 2018.

“Antara pelaku pasar harus menanggapi positif atau kenaikan tersebut dinilai telat setelah laju Rupiah kian banyak terdepresiasi. Namun, pada kondisi riil nya laju Rupiah tetap melemah,” tandasnya. (jpg)

 

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...