Ingat!! Mubalig Lahir dari Masyarakat, Bukan dari Negara

Jumat, 25 Mei 2018 02:16

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Daftar 200 nama mubalig yang dirilis oleh Kementerian Agama menjadi pembahasan panjang saat ini. Pasalnya, daftar nama itu berhasil membuat gaduh di tengah-tengah umat Islam Indonesia.Tak sedikit pihak yang memberikan kritikan pedas kepada Kementerian yang dipimpin oleh Lukman Hakim Saifuddin ini. Akademisi Univeraitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Adi Prayitno mengingatkan Pemerintah soal tafsir dari mubalig.Menurut Prayitno, mubalig atau kiyai di Indonesia bukanlah satu tradisi seperti di negara lain (Malaysia), tapi gelar mubalig itu disematkan oleh masyarakat kepada seseorang yang secara agama Islam sangat soleh dan kuasai tafsir-tafsir Al-Quran, Hadist hingga ilmu fiqih.”Kenapa jadi polemik dan agak gaduh soal rilis 200 mubalig ini. Pertama saya melihat kita itu soal mubalig dan kiyai itu tidak pernah mempunyai tradisi seperti negara lain, seperti malaysia yang terlembaga. Jadi mubalig kita tumbuh secara alami dan natural, dan sebutan itu diberikan terhadap masyarkat kepada orang secara individu saleh secara agama islam, dan menyampaikan kebaikan,” kata Prayitno dalam diskusi publik di Gedung Pressrum DPR RI, Kamis (24/5).Jadi, kata Prayitno, langkah Pemerintah dalam hal ini Kementerian Agama merilis 200 nama mubalig menjadi gaduh adalah sesuatu yang wajar. “Jadi ketika ada rilis 200 mubalig, wajar gaduh karena dari dulu sebutan ustad, kiyai, mubalig itu tidak pernah lahir dari negara,” jelasnya.Prayitno menegaskan, Pemerintah harus paham benar tentang arti mubalig ini, agar langkah Pemerintah dalam mengambil satu keputusan itu tidak menjadi pertentangan dengan publik. “Anasir-anasir ini harus dibaca, bahwa tradisi Islam kita berbeda dengan tetangga sebelah seperti Malaysia,” tegasnya.Meski begitu, Prayitno tetap berprasangka baik kepada Pemerintah atas langkah ini. Dikatakan Prayitno, langkah Pemerintah merilis 200 nama ini sebagai satu cara untuk meredam kesalah pahaman antar anak bangsa pasca Pemilihan Presiden 2014 lalu. Jadi, dengan menampilkan mubalig berkualitas bisa meredam kondisi bangsa saat ini.”Soal kriteria mungkin kita perlu prasangka baik dengan Menteri Agama, mungkin di tengah kegaduhan bangsa kita yang selalu disebut terbelah karena konflik Pilpres 2014 ga selesai, akibat pilkada 2017 ga selesai, dan isu-isu keagaaman yang sensitif, saya kira memang penting mubalig, ustad atau kiyai itu memberikan suatu kriteria apapun parameternya untuk dijadikan menjadi narasumber,” ungkapnya. (Aiy/Fajar)

Bagikan berita ini:
1
2
6
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar