Tertangkap dengan Staf Wanita di Kamar Hotel, Anggota Dewan ini Ngaku Ada Kerjaan

FAJAR.CO.ID, PONTIANAK- Operasi Pekat yang dilakukan Polres Sekadau, Sabtu malam (19/5) lalu menjadi perbincangan di Kalbar. Pasalnya, Ketua Fraksi Partai Demokrat DPRD Kalbar Tanto Yakobus sempat diangkut polisi.

Nah, diberitakan Rakyat Kalbar, anggota Komisi IV DPRD Kalbar itu kedapatan berada dalam kamar Hotel Borneo Sekadau bersama seorang perempuan yang bukan istrinya. Diketahui perempuan tersebut merupakan stafnya bernama Khatarina. Kendati begitu, Tanto mengaku tidak ada melakukan apa-apa dengan Khatarina.

Berdasarkan penjelasan Tanto, ia bersama Khatarina sebatas pekerjaan. Sebelumnya, ia bersama rombongan mengikuti kampanye. Setelah itu, mereka menginap di hotel. “Saya bersama rombongan akan melangsungkan acara di Sekadau karena sedang masa reses,” ujarnya, Rabu (23/5).

Ia bersama tim resesnya menyewa dua kamar sekitar pukul 23.07 WIB. Kemudian Tanto bermaksud numpang mandi di kamar Khatarina. Sebab kamar satunya sedang digunakan staf lainnya.  Ketika berada di kamar, ternyata Khatarina sedang mandi. Sambil menunggu stafnya itu mandi, ia duduk di depan televisi. “Bu Khatarina sedang mandi dan saya masih di depan TV, baru akan memegang remote,” katanya.

Belum selesai ia mandi, kamar diketuk dari luar. Tanpa pikir panjang ia membukakan pintu. Ternyata polisi sedang menggelar Operasi Pekat. “Saya ndak ada berpikir apa-apa saat diketuk, karena wanita yang sekamar adalah staf reses saya,” tuturnya.  Ketika petugas menanyakan siapa yang sedang mandi, Tanto mengatakan seorang perempuan. Dari situ petugas tau bahwa ada perempuan, sehingga ditunggunya. “Usai dari situ kami dibawa ke Polres,” ceritanya.

Saat di Mapolres Sekadau, Tanto mengaku diperiksa polisi. Bahkan saat itu, ia masih menggunakan pakaian partai. Polisi sempat menyuruhnya mengganti pakaian partai yang dikenakannya. Sebab polisi merasa tidak enak saat ia diperiksa masih menggunakan pakaian partai. “Saya hanya klarifikasi saat di Polres bahwa kami tidak melakukan apa-apa. Khatarina adalah staf saya yang telah lama bekerja dengan saya,” tuturnya.

Ditegaskannya, ia bersama stafnya tersebut telah membuat pernyataan di polisi bahwa mereka murni bekerja. Tidak pernah ada kejadian sebagaimana diberitakan pada saat ia terjaring Operasi Pekat. Apalagi sampai melakukan tindakan asusila.

Bersama tiga stafnya dan sopirnya, Tanto meyakinkan jika mereka sering berpergian bareng menyangkut pekerjaan partai. Untuk itu, ia berharap kejadian tersebut tidak dipelintir. “Saya telah menelepon istri dan ketua partai saya menjelaskan kejadian yang sebenarnya. Bahkan karena saya merasa tidak ada apa-apa, saya mau diperiksa dan mendukung razia tersebut,” tutup Tanto.

Wakil Ketua DPRD Kalbar H Suriansyah ketika diminta tanggapannya mengaku belum mengetahui kejadian yang dialami Tanto. Namun jika kasus tersebut benar, berarti yang bersangkutan melanggar hukum. Sehingga harus diproses secara hukum.

Jika melanggar etik, maka akan diproses oleh Badan Kehormatan (BK) DPRD Kalbar. “Kita akan menggelar sidang kode etik, pemeriksaan harus dilakukan sebelum adanya tindakan,” jelasnya kepada Rakyat Kalbar, Rabu (23/5).

BK kata dia, harus investigasi kasus ini untuk membersihkan nama baik DPRD selaku lembaga wakil rakyat. “BK harusnya langsung melakukan pemeriksaan, karena menyangkut nama baik wakil rakyat, selain menyelesaikan kasus ini hingga tuntas,” tegas Ketua DPD Partai Gerindra Kalbar.

Sementara itu, Ketua BK DPRD Kalbar, Minsen masih enggan berkomentar terkait kejadian yang menimpa Tanto. Sebab ia  belum mengetahui kasus sebenarnya. “Setelah saya tau nanti akan kita lakukan tindakan selanjutnya,” janji Minsen kepada Rakyat Kalbar.

Saat ini kata Politisi PDIP ini, dirinya masih akan mempelajari kasus tersebut. “Saya belum bisa berkomentar. Saya juga akan mempelajari barang (kasus, red) itu,” tutup Minsen. Terpisah, Ketua DPD Partai Demokrat Kalbar Suryadman Gidot mengatakan, pihaknya sedang berkerja untuk mencari bukti-bukti terkait kejadian kadernya tersebut. “Saya tetap menjalankan mekanisme partai,” ujarnya kepada Rakyat Kalbar. Ditegaskannya, praduga tidak bersalah harus dikedepankan. “Sekarang menjadi pertanyaan kita, apa benar dia (Tanto, red) selingkuh dan siapa-siapa saksinya?” tanya Gidot.

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kalbar HM Basri berharap, masyarakat menghormati Ramadan. Memanfaatkan momentum bulan suci ini untuk meningkatkan iman dan taqwa. Walau bukan sebatas di bulan puasa saja. “Kita dilatih dalam Ramadan harapan kita seterusnya bisa dilanjutkan,” imbaunya.

“Sehingga Insya Allah sepanjang masa tidak akan terjadi hal-hal lain. Kalau kita memaknai hikmah Ramadan kan seperti itu,” sambung Basri. (Zainudin, Kurnadi, Rizka Nanda/rk)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID
Editor : Redaksi M1

Comment

Loading...