JSI Unggulkan IYL-Cakka, Nurdin Abdullah: Mereka Yang Bayar

0 Komentar

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Hasil survei lembaga Jaringan Suara Indonesia (JSI) yang mempublish riset terbarunya satu bulan jelang pencoblosan pemilihan gubernur Sulsel 2018, mengunggulkan pasangan calon nomor urut empat, Ichsan Yasin Limpo-Andi Mudzakkar. Hal itupun memantik komentar dari rival IYL-Cakka, Nurdin Abdullah.

Survei yang diambil pada bulan Mei 2018, menempatkan kandidat gubernur dan wakil gubernur Sulsel Ichsan Yasin Limpo-Andi Muzakkar (IYL-Cakka), diposisi pertama dengan elektabilitas 29,8 persen.

Disusul posisi kedua ditempati Nurdin Abdullah-Andi Sudirman Sulaiman (NA-ASS) yang mengantongi dukungan 26,1 persen. Sedangkan diposisi tiga Nurdin Halid-Aziz Qahhar Mudzakkar (NH-Aziz) 20 persen, dan posisi empat Agus Arifin Nu’mang-Tanribali Lamo (Agus-TBL) hanya 7,1 persen.

Menanggapi hal tersebut, pasangan dengan tagline prof Andalan, Nurdin Abdullah menilai hal tersebut merupakan hal yang wajar. Menurutnya, setiap paslon memiliki tim survei masing-masing.

“Kan masing masing punya survei, jadi kita tidak boleh juga membantah karena kita juga punya survei. Biarlah kita yakini masing masing survei kita, kalau kami indobarometer, SSI, dan lainnya. Survei itu alat ukur, jadi kita bisa melihat daerah-daerah yang masih harus kita sentuh,”kata Nurdin Abdullah saat ditemui pada acara buka puasa bersama di rumah perjuangan, Jalan H. Bau Makassar, Senin (38/5/18).

Hasil survei tersebut, lanjut Nurdin, menunjukkan bahwa masih banyak masyarakat yang belum mengenal kandidat tersebut. Dirinya pun merasa tidak terganggu dengan hasil survei itu, karena baginya hasil akhir lagu yang menentukan.

“Kan kelihatan misalnya Maros ada beberapa kecamatan yang belum kenal saya, maka saya kesitu, itulah tujuannya survei sebenarnya. Kenapa harus terganggu, hasil akhirnya kita lihat. Kan yang paling penting hasil akhir, karena survei itu bukan patokan KPU, kita mensurvei untuk mengukur gerakan kita,” tegas Nurdin.

Untuk itu, Nurdin tidak ingin berkomentar banyak tentang hasil survei, karena lembaga survei tersebut dibayar oleh kandidat. “Survei itu bukan sifatnya permanen, tapi kita tidak boleh mengomentari surveinya orang karena mereka yang bayar, bukan kita,”bebernya.

Meski demikian, satu bulan menjelang pencoblosan hingga minggu tenang  pilkada, dirinya bersama dengan tim pemenangan tetap bekerja keras meski beberapa lembaga survei menempatkannya pada posisi teratas.

“Kita kerja semua, jangan terlena dengan survei. Pastilah ada gerakan massif, ini diujung-ujung harus kita kontrol, dan hasil survei kita ada beberapa daerah, kelurahan, hingga desa yang mengenal saya itu masih 40 persen, skalanya 1 hingga 2 daerah,” pungkasnya. (sul/fajar)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...