Mendulang Rupiah Diatas Musibah

0 Komentar

FAJAR.CO.ID, WAJO — Dua kelurahan di Kabupaten Wajo diterjang musibah banjir. Sudah sepekan lebih, akses warga di Kelurahan Laelo dan Kelurahan Salomenraleng, Kecamatan Tempe pun terbatas.

Di tengah musibah alam tersebut, justru sejumlah bocah menjadikan ladang penghasilan. Betapa tidak, para bocah yang berinisiatif untuk menjadi tukang ojek perahu itu mampu mengumpulkan pundi-pundi rupiah dengan pendapatan mulai Rp60 ribu hingga Rp100 ribu per hari.

Salah seorang tukang ojek perahu, Muliadi mengatakan sepulang dari sekolah dirinya sudah menunggu menumpang di dekat jembatan gantung Laelo. Menurutnya, jauh dekat dirinya memasang tarif Rp5.000.

“Kadang ada juga yang kasih lebih, seharinya rata-rata dapat Rp60 ribu dan kadang mencapai 100 ribu. Kalau hari libur banyak dapatnya karena dari pagi, kalau hari sekolah nanti setelah pulang baru ngojek,” ujar Muliadi, pelajar yang masih duduk di bangku kelas 5 SDN 17 Laelo itu.

Ditambahkan, warga setempat Wanti mengatakan, jika ketinggian air saat ini mencapai 50 centimeter hingga 1,5 meter. Ia menyebutkan, ketinggian air justru perahu yang menjadi alat transportasi satu-satunya saat ini.

“Tidak semua warga memiliki perahu, kadang yang tidak punya perahu terpaksa harus menumpang ketika kebetulan ada yang lewat, atau pinjam sama keluarga dan tetangga. Nah untungnya ada juga anak-anak disini yang memanfaatkan kondisi banjir untuk ngojek pakai perahu,” ungkapnya.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Wajo H Alamsyah menyampaikan, tingkat curah hujan akhir-akhir ini cukup meningkat, pemukiman dipinggiran danau tempe dan sekitarnya harus terendam. Dia mengimbau, agar lebih mengencangkan sikap kesiapsagaan dalam menghadapi bencana tersebut.

“Termasuk pemerintah daerah bersama seluruh stakholder dalam melakukan penanganan bencana untuk mempersiapkan diri dalam memberikan layanan ditengah masyarakat, sehingga pada akhirnya terwujudnya pengurangan resiko bencana,”ujarnya.

Sekedar diketahui Banjir dikawasan tersebut terjadi sepuluh hari terakhir, air mulai merangkak nak mulai 1 ramadan. Kondisi tersebut diperparah dikarenakan Intensitas hujan tinggi terus menguyur ditambah adanya air kiriman dari Kabupaten Soppeng. (*)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...