Presiden Prancis Geram Dua Mata-matanya Bocorkan Rahasia ke Tiongkok

Selasa, 29 Mei 2018 - 03:17 WIB
Dua agen Prancis ditangkap karena diduga memberi informasi pada Tiongkok (Foto: AFP)

FAJAR.CO.ID — Dua mantan mata-mata Prancis telah ditangkap setelah dituduh memberikan informasi rahasia kepada Tiongkok.

Seperti dilansir Channel News Asia, Sabtu, (26/5), agen yang sudah dijadikan tersangka tersebut telah ditahan Desember lalu. Namun, insiden itu baru terungkap setelah diberitakan media Prancis berdasarkan pernyataan dari Menteri Pertahanan Prancis Florence Parly.

“Dua agen Prancis dituduh melakukan tindakan serius, mungkin dianggap sebagai tindakan pengkhianatan karena memberikan informasi kepada kekuatan asing,” kata Parly kepada televisi CNews.

Berbicara dari Moskow, Presiden Prancis Emmanuel Macron menyebut dugaan persekongkolan itu sangat serius. Ia mengatakan, sistem peradilan akan menyelidiki dan menilai para tersangka. Sumber keamanan yang berbicara kepada AFP tanpa menyebut nama, mengonfirmasi laporan media Prancis bahwa dua agen di General Directorate of External Security (DGSE), dicurigai bekerja untuk Tiongkok.

Setidaknya salah satu dari mereka, sebelumnya telah ditempatkan di negara itu, menurut program Quotidien pada penyiar Perancis TMC. Beijing telah lama dituduh melakukan mata-mata komersial untuk mencuri kekayaan intelektual milik Prancis yang berharga. Operasi intelijennya diperkirakan telah berkembang sejalan dengan ambisinya yang semakin besar.

“Tiongkok mempelajari apa yang ingin dilakukan oleh kekuatan lain dalam hal politik, diplomasi, dan sebagainya. Mereka tentu saja juga memburu informasi ekonomi,” kata mantan Kepala Intelijen dan Keamanan DGSE Alain Chouet.

Menurut peneliti Prancis Philippe Marvalin, yang menulis Dictionary of Intelligence, Tiongkok memiliki 18 agen mata-mata yang mempekerjakan sekitar 7.000 orang yang menangani 50 ribu agen yang dikenal sebagai Chen Diyu, atau ikan yang berenang di air dalam. “AS adalah target utama mereka. Sedangkan di Eropa target mereka adalah Perancis, Inggris, Belanda, dan Jerman,” tulisnya.

Mantan kepala mata-mata lainnya, yang menolak disebut namanya, mengatakan kepada AFP, Beijing telah mengirim agen ke seluruh pelosok industri Perancis, termasuk mahasiswa ke universitas Prancis yang dapat digunakan untuk menjebak target. “Anda bertemu seseorang di sini atau di sana. Ini infiltrasi yang tenang, tidak ada yang dramatis. Ini tidak seperti film,” katanya.

Ahli dan Sejarawan Tiongkok untuk DGSE, Francois Yves Damon mengatakan, pernah terjadi hal mengejutkan. Seorang pelajar Tiongkok di sekolah elit ENA, memfotokopi tumpukan dokumentasi yang sangat besar. “Apa pun yang bisa dia dapatkan!”

Mengetahui kapasitas agen intelijen Tiongkok, Damon tak terkejut mengetahui dua mantan agen DGSE tertangkap dan dipenjara karena diduga melakukan pengkhianatan. (ina/JPC)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.