BNPT Klaim Ada 7 Universitas Terpapar Radikalisme, Alhabsyi Minta Dibuktikan

Rabu, 30 Mei 2018 - 14:48 WIB

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Pasca terjadi aksi teror bom ditiga wilayah, Mako Brimob, Depok, Jawa Barat, tiga Gereja di Surabaya dan Polrestabes Kota Surabaya dan Polda Riau beberapa pekan kemarin, memaksa Badan Nasional Penanggulangan Terorisme dan aparat penegak hukum lainnya untuk bekerja keras mengungkapkan dalang dibalik aksi teror bom tersebut.

Selain dalang dibalik teror bom, BNPT dan aparat penegak hukum juga diminta memetakan dengan jelas para kelompok teror yang ada di Indonesia. Tak hanya masalah teror bom di tiga lokasi itu, BNPT juga sempat membuat heboh soal pernyataan mereka terkait tujuh Universitas di Indonesia yang sudah terkapar radikalisme.

Oleh sebab itu, Komisi III DPR RI meminta BNPT membuktikan pernyataan mereka terkait tujuh Universitas yang sudah terkapar paham radikalisme tersebut. Pasalnya, penyataan tersebut sudah meresahkan masyarakat.

“Hal lain yang perlu dijelaskan BNPT adalah adanya pernyataan bahwa terdapat 7 Perguruan Tinggi yang terpapar radikalisme. Apa yang disampaikan ini tentunya meresahkan masyarakat. Apa memang situasinya separah itu, jangan sampai ini menjadi kekhawatiran baru bagi orang tua yang mau mengkuliahkan anaknya,” kata Anggota Komisi III DPR RI Faksi PKS, Aboebakar Alhabsyi saat menggelar Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan BNPT, Rabu (30/5).

Alhabsyi juga mendesak pihak BNPT untuk menjelaskan pernyataan mereka terkait tujuh Universitas yang terkapar paham radikalisme tersebut. Dikatakan politisi asal Kalimantan itu, instrumen apa yang digunakan oleh BNPT dalam mengambil kesimpulan terkait pernyataan tersebut.

“BNPT harus mampu menjelaskan ke publik, instrumen apa yang digunakan untuk mengambil kesimpulan ini. Selain itu parameter apa yang diguanakan untuk menilai mahasiswa itu radikal atau tidak. Sehingga publik mendapat gambaran yang utuh dari kesimpulan yang diambil,” jelasnya. (Aiy/Fajar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.