Pengamat : Wajar JSI Unggulkan Kliennya, Bisa Tidak Dibayar Kalau Tidak

Rabu, 30 Mei 2018 14:08

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Jaringan Survei Indonesia (JSI) merilis riset terbarunya mengenai potret Pilgub Sulsel 2018. Hasilnya, Ichsan Yasin Limpo-Andi Muzakkar (IYL-Cakka) berada pada posisi pertama dengan elektabilitas 29,8 persen pada survei yang diambil periode Mei 2018. Disusul Nurdin Abdullah-Andi Sudirman Sulaiman (NA-ASS) 26,1 persen; Nurdin Halid-Aziz Qahhar Mudzakkar (NH-Aziz) 20 persen; dan Agus Arifin Nu’mang-Tanribali Lamo (Agus-TBL) 7,1 persen.Hasil riset JSI memantik gejolak di publik. Itu tidak lepas karena JSI selama ini diketahui sebagai konsultan politik dari Punggawa Macakka-julukan IYL-Cakka. Status JSI sebagai bagian dari pemenangan pasangan nomor urut empat bahkan sempat diumumkan sendiri oleh tim pemenangan IYL-Cakka, Ian Latanro, pad Agustus tahun lalu. Kala itu, Ian Latanro menyampaikan pihaknya menggunakan dua jasa lembaga survei yakni JSI dan LSI.Pengamat politik dari Universitas Hasanuddin, Amir Ilyas, mengungkapkan fenomena penggunaan hasil survei menjelang pencoblosan untuk menggiring opini publik terkait keunggulan tidak semestinya dilakukan. Terlebih, bila lembaga survei yang merilis berstatus konsultan politik dari kandidat. Terkesang sangat tidak etis. Tidak heran bila lembaga survei tersebut mengabaikan prinsip ilmiah dan menjagokan kliennya.”Hasil survei merupakan kerja-kerja penelitian yang ilmiah, harus dihormati. Tapi menjadi tidak etis bila lembaga survei itu berstatus konsultan politik. Nah, soal survei terakhir ya kalau dari kacamata politik, wajarlah JSI unggulkan kliennya, tapi dari lagi-lagi dari sisi akademis dan kepatutan, itu sangat tidak etis,” kata Amir, saat dihubungi Selasa, 29 Mei.

Bagikan berita ini:
10
10
3
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar