Kerangkanya Tak Mungkin Bisa Diangkut ke Darat, Sudah Rusak

FAJAR.CO.ID, TARAKAN – Kepala Seksi Keselamatan Berlayar, Penjagaan dan Patroli pada Kantor Syahbandar dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Tarakan Syaharuddin mengungkapkan jika kerangka kapal cepat Harapan Baru Express sangat sulit dan tidak memungkinkan untuk dibawa ke darat demi kepentingan pemeriksaan.

“Kerangka speedboat memang tidak bisa ditarik, karena sudah rusak parah. Sehingga hanya mesin kapal saja yang dibawa agar tidak hilang karena dijadikan barang bukti (BB),” ungkap Syaharuddin.

Selain pemeriksaan terhadap kapal, Syaharuddin juga menegaskan jika pihaknya masih mencari keterangan saksi-saksi. Terutama terhadap keterangan penumpang yang selamat dari kecelakaan. Hanya, terkendala dengan alamat penumpang dan beberapa penumpang luka masih belum sembuh total.

“Dua awak kapalnya masih dalam kondisi sakit. Sementara kami hanya baru periksa satu ABK saja. Saya sudah perintahkan juga untuk mencari satu penumpang yang memang bisa dimintai keterangan. Namun kami belum menemui alamatnya. Dan kami secepatnya akan bekerja sama dengan agen. Penumpang yang bias kami mintai saksi yang memang mengetahui kronologis pada waktu itu,” bebernya.

Seiring berjalannya pemeriksaan, Syaharuddin juga mengungkapkan juka KSOP terus berupaya untuk meminimalisir kecelakaan-kecelakaan di laut dengan melakukan pelatihan dan pemeriksaan terhadap kapal, nakhoda, ABK serta alat keselamatan. “Ada sepuluh speedboat yang kami periksa. terkait dengan alat pengamanan penumpang yakni life buoy. Yang digunakan untuk ketika ada orang jatuh ke laut maupun dengan life jacket yang digunakan oleh penumpang ketika berangkat,” jelasnya.

Dalam pemeriksaannya itu, Syaharuddin menguji satu per satu nahkoda maupun ABK.

“Ternyata mereka membutuhkan waktu itu lima menit untuk bisa membuka ikatan. Tapi, saya meminta mereka untuk membuka tali ikatan itu hanya dalam waktu satu menit. Dan itu sudah paling lama untuk bisa menolong orang yang jatuh,” bebernya.

Dengan begitu, Syaharuddin pun mengimbau kepada pemilik kapal untuk tidak mengikat mati life buoy dengan alasan takut terbang atau hilang.

“Makanya difungsikan awak kapal untuk menjaga kapal dan peralatan. Sehingga nanti kalau ada emergency dapat digunakan sesegera mungkin,” ujarnya.

Bahkan Syahruddin juga tak segan-segan untuk mengingatkan kepada nahkoda soal tata cara penyusunan muatan yang baik. Untuk selalu mengontrol nahkoda agar bisa menata barang penumpang dengan baik. “Yang mengetahui kondisi kapal baik kemiringan itu adalah si nahkoda. Karena dia yang mengetahui karakteristik kapal. Dan itu yang selalu saya tekankan ke mereka karena di tangan nakhoda, nyawa-nyawa para penumpang dipertaruhkan,” terangnya. (eru/lim)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID
Editor : Redaksi M1

Comment

Loading...