Korban Travel Bodong Masih Berharap Duitnya Dikembalikan

Minggu, 3 Juni 2018 - 19:48 WIB
Puluhan agen Travel Abu Tours, melakukan koordinasi dengan pihak kuasa hukum dan menejemen PT Abu Tours, Minggu (25/3/2018).

FAJAR.CO.ID, BALIKPAPAN  –   Calon jamaah umrah PT Arafah Tamasya Mulia (ATM) masih menggantung harap. Setelah melaporkan dugaan penipuan dan penggelapan dana calon jamaah kepada Polda Kaltim, Jumat (1/6), mereka ingin dana segera dikembalikan pihak travel.

Seorang calon jamaah, Harny, menyebut masih menunggu kabar dari perwakilan PT ATM yang menjanjikan pengembalian dana (refund). Meski begitu, dia dan 30 calon jamaah lain masih harus melakukan proses pengumpulan bukti yang diminta kepolisian. “Kami masih diminta mengumpulkan bukti-bukti terkait laporan sebelumnya (30/5),” ungkap Harny.

Jika bukti lengkap, berdasarkan hasil konsultasi dengan kepolisian, pelapor bisa meneruskan perkara perdata. Terkait hal ini, dia enggan berspekulasi. Mereka menyerahkan sepenuhnya proses hukum kepada penegak hukum. Apakah langkah hukum tersebut bisa membuat uang mereka kembali.

“Kami pastikan dulu pidana kami bisa jalan. Kalau sudah, kami bisa melakukan proses perdata,” ungkapnya.

Soal langkah calon jamaah untuk memastikan aset PT ATM sebagai jaminan, Harny menyebut, belum sampai mengarah ke sana. Sebab, masih adanya janji-janji manis dari pihak PT ATM yang menyebut akan melakukan refund jika ada dananya.

“Perjalanan kami masih panjang untuk kasus ini. Jadi, kami berusaha dan menyerahkan perkara ini ke kepolisian,” ucapnya.

Sementara itu, pantauan media ini di kantor pusat PT ATM di Jalan Mayjend Sutoyo, Klandasan Ilir, Balikpapan Kota, empat orang tampak berkumpul. Mereka mengaku sebagai calon jamaah yang akan diberangkatkan ke Tanah Suci. Sayang, kantor dalam keadaan tutup karena tanggal merah.

“Saya harusnya berangkat pagi ini (1/6). Namun, ditelepon, katanya jangan dulu berangkat,” kata seorang pria paruh baya yang enggan menyebut namanya.

Dia menyebut sudah menyetor Rp 20,5 juta sejak awal. Namun, usai dipastikan masuk sebagai manifes calon jamaah yang berangkat di tahap dua, dia diminta kembali menyetor Rp 8 juta. Kata dia, menurut perwakilan PT ATM, pihaknya kekurangan dana pemberangkatan untuk 50 orang sebesar Rp 300 juta.

“Saya setor lagi Rp 8 juta. Terus kalau mau berangkat diminta beli tiket sendiri ke Jakarta. Karena pemberangkatan dari Jakarta. Tadi mau berangkat ditahan dulu oleh penanggungjawabnya,” sebut pria beruban itu.

Dirinya kukuh ingin berangkat karena mendengar kabar 50 orang jamaah sudah diberangkatkan di tahap satu pada 23 Mei hingga 31 Mei lalu. Meski, sebagian besar merupakan jamaah dari luar Balikpapan. “Yang tahap satu itu enam orang jamaah dari Balikpapan,” jelasnya.

Konfirmasi coba dilakukan media ini ke Direktur Utama PT ATM Hamzah Huzain. Sayang, Hamzah tak berada di kantor pusat. Seorang penjaga menyebut Hamzah dan para petinggi PT ATM berada di Jakarta. Sementara itu, klarifikasi dicoba melalui sambungan telepon. Namun, tak ada nada sambung. Koran ini mencoba meminta kontak seorang penanggung jawab yang disebut menangani calon jamaah di Balikpapan. Ada nada sambung, namun tak diangkat.

Hamzah Huzain pun oleh calon jamaah dianggap sudah tak diketahui rimbanya. Sejumlah orang yang ditemui dan dihubungi Kaltim Post menyebut tak lagi pusing memikirkan nasib sang bos itu. Pasalnya, sejak pertemuan terakhir yang dimediasi Polres Balikpapan pada 19 Mei lalu, sejumlah calon jamaah mengaku tak lagi bisa menghubungi Hamzah. Begitu pula dengan nasib PT ATM yang ditolak izinnya oleh Kementerian Agama (Kemenag) RI. Mereka sudah pasrah sambil berharap apa yang mereka sedang perjuangkan bisa direalisasikan.

“Bagi yang mau refund dan lapor ke polisi, silakan. Kalau kami, ingin tetap berangkat. Sesuai kesepakatan dengan Pak Ahmad Maulana. Ada kesempatan bagi kami untuk tetap berangkat,” kata calon jamaah lain.

Diketahui, sebanyak 31 calon jamaah PT ATM membuat laporan ke Polda Kaltim. PT ATM diduga telah menipu uang sebesar Rp 591,7 juta milik mereka. Berasal dari calon jamaah dari berbagai daerah. Seperti Balikpapan, Samarinda, dan Palembang, Sumatera Selatan. Laporan ke 31 calon jamaah itu oleh Polda Kaltim ditindaklanjuti dengan dikeluarkannya surat laporan Nomor LP/273/V/2018/POLDAKALTIM/SPKT 1.

“Langkah awal sudah dilakukan dengan meminta keterangan saksi korban. Sekaligus menerima bukti surat keterangan lapor,” terang Kabis Humas Polda Kaltim Kombes Ade Yaya Suryana, Kamis (31/5).

Sementara Kemenag Balikpapan mengabarkan telah menolak surat permohonan izin PT ATM untuk menjadi travel perjalanan haji dan umrah. Tidak memiliki finansial yang memadai jadi alasan penolakan tersebut. Selain itu, ada syarat yang membuat izin operasional PT ATM tak bisa diproses. PT ATM tak memiliki sumber daya manusia, manajemen, dan sarana prasarana untuk memberangkatkan jamaah haji dan umrah. Dalam surat juga disebut jika dalam pemantauan tim verifikasi yang turun ke lapangan menyebut, ada 1.316 calon jamaah yang sudah mendaftar dan melunasi pembayaran.

“Barusan kami terima surat dari Dirjen penyelenggara haji dan umrah di Jakarta, tentang jawaban permohonan izin operasional sebagai penyelenggara ibadah umrah PT ATM, berdasarkan surat yang diajukan bahwa permohonan izin ditolak,” kata Kasi Perjalanan Haji dan Umroh Kemenag Balikpapan Shaleh.

Masalah travel umrah tak hanya dialami calon jamaah PT ATM. Kasus serupa belakangan kembali membuncah setelah vonis terhadap bos First Travel. Pada Rabu (30/5), Pengadilan Negeri Depok menjatuhi hukuman 20 dan 18 tahun penjara untuk pasangan suami-istri bos First Travel, Andika Surrachman dan Anniesa Hasibuan. Selain First Travel dan ATM, ada kasus yang menimpa calon jamaah PT Timur Sarana Tour & Travel (Tisa). Korban Tisa banyak dari Kaltim. Secara umum, modus First Travel dan Tisa serupa; umrah murah. Program yang membuat ribuan jamaah asal Kaltim tertipu mentah-mentah oleh Mawan Rosmawan dan Julianto Harahap yang merupakan petinggi Tisa.

Atas perbuatannya itu, Mawan dan Anto, panggilan Julianto Harahap, memang sudah diganjar  hukuman selama 32 bulan dan 27 bulan oleh Pengadilan Negeri Kota Bekasi pada akhir November 2017. Sama seperti korban First Travel, ganjalan lain yang sampai kini jadi pertanyaan besar jamaah Tisa adalah bagaimana nasib uang mereka. Endang Susilowati, salah satu korban Tisa asal Balikpapan, mengaku tak bisa lagi berbuat apa-apa alias pasrah. Khusus Kaltim, paling tidak sebanyak 1.300 jamaah jadi korban Tisa dengan kerugian ditaksir puluhan miliar rupiah. (*/rdh/far/k11)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.