Besok, Jamaah An Nadzir Lebaran Idulfitri

0 Komentar

FAJAR.CO.ID, GOWA — Setelah melakukan pengamatan alam beberapa hari di beberapa tempat, salah satunya adalah di wilayah pantai, akhirnya jamaah An Nadzir mulai menetapkan 1 Syawal 1439 Hijriah.

Berdasarkan hasil musyawarah yang dilakukan An Nadzir pada Minggu (10/6/2018) malam disepakati bahwa 1 Syawal jatuh pada Kamis (14/6/2018) besok.

Pimpinan jamaah An Nadzir, ustadz Lukman Albakti saat dikonfirmasi, Selasa (12/6/2018) mengatakan penetapan 1 Syawal 1439 Hijriah di lingkupnya telah ditetapkan pada Kamis besok.

“Insya Allah hari Kamis 14 Juni 2018 kita akan laksanakan salat Ied nya di Masjid An Nadzir. Adanya ketetapan jadwal 1 Syawal ini Kamis besok berarti estimasi hari Rabu ini, 13 Juni 2018 sekitar pukul 13.00 Wita, kami sudah membuka ibadah puasa kami,” jelas ustadz Lukman Albakti yang dihubungi Beritakota Makassar (grup fajar.co.id) via WhatsApp.

Pada dasarnya pihaknya menetapkan awal bulan Syawal 1439 Hijriah, melalui pengamatan dan penentuan akhir Ramadan 1439 Hijriah tersebut dikarenakan bulan baru yang terbit pada 1 Syawal itu tidak bisa diamati langsung.

Hal itu kata ustadz Lukman Albakti, karena bulan berpotensi terbit (-)10 derajat atau (-)6 derajat di bawah garis horisontal. Yang sangat mudah diamati adalah akhir Ramadan yang terbit dini hari di belahan timur dan untuk mengetahui kapan hari terakhir terbitnya di timur.

Ada beberapa hal yang menjadi indikator tentang akhir bulan ini.Pertama, harus diketahui kapan terbitnya bulan purnama 15 untuk mengetahui bahwa estimasi masih akan terbit lagi 15 malam bulan ke depan.Kedua, harus diketahui persis terbitnya fajar siddik karena fajar siddik adalah batasan malam dan siang.

Ketiga, ada minimal tiga malam terakhir terbitnya bulan dari malam ke malam berikutnya terpaut 54 menit pertambanahannya.Keempat, terbitnya bulan akhir di ufuk timur bila mencapai 54 menit menuju terbitnya fajar siddik adalah indikator bahwa hari itu merupakan akhir bulan yang akan berpisah di waktu sore atau awal malam.

Kelima, pada tiga malam terakhir kita mengamati fisik bulan sabit yang terbit di ufuk timur dengan cara menggunakan kain tipis warna hitam untuk melihat bentuk bulan sabit dengan memperhatikan berapa garis bayangan bulan sabit terlihat, sebagai estimasi gambaran masih berapa malam lagi bulan Ramadan akan terbit.

“Keenam, pengamatan terakhir adalah terjadinya air pasang tertinggi yang terjadi di laut akibat adanya posisi terbentuknya garis astronomi antara matahari, bulan dan bumi yang mendekati sejajar (mendekati garis lurus) sehingga melahirkan efek gravitasi terhadap air laut yang hanya terjadi sebanyak satu kali dalam siklus 29/30 hari perjalanan bulan,” detil ustadz Lukman Albakti.

Dari parameter mengamati perjalanan Ramadan tersebut, tambah ustadz Lukman Albakti disimpulkannya bahwa 15 Ramadan 1439 Hijriah terjadi pada hari Senin malam dan Selasa  29 Mei 2018 terjadi purnama 15 Ramadan 1439 Hijriah.

Maka menghitung 15 hari ke depan sudah diestimasi akan terjadi akhir bulan Ramadan tersebut pada hari Rabu 13 Juni 2018 Selanjutnya terbitnya fajar siddik diketahui pada pukul 05.30 Wita.

“Bila dihitung dari terbitnya bulan pada garis horisontal menuju terbitnya fajar siddik, maka untuk hari Rabu dini hari di tanggal 13 Juni 2018 kami estimasi bulan terbit dari titik nol garis horisontal menuju terbitnya fajar siddik hanya menempuh waktu sekitar 27 menit saja atau tidak cukup 54 menit. Sehingga pada Rabu itu akan terjadi perpisahan bulan di siang hari,” jelasnya lagi.

Kemudian kata ustadz Lukman Albakti lagi, pengamatan tiga malam terakhir tepatnya di hari Senin 11 Juni 2018 dini hari fisik bulan sabit terbit di timur membentuk garis 3 lapis menandakan bahwa setelah hari Senin tersebut masih ada dua malam lagi bulan akan terbit, yaitu pada hari Selasa dan Rabu.

Dan pengamatan air pasang berdasarkan laporan dari posko pengamatan air laut kami di Kolaka bahwa sejak hari Sabtu 9 Juni 2018 pada pukul 04.30 dini hari telah mulai terjadi air pasang selama empat jam kemudian surut pada pukul 08.30 Wita.

Selama beberapa hari air pasang ini terjadi yang pertambahan waktunya setiap harinya adalah satu jam. Maka pada hari Ahad air pasang terjadi mulai pukul 05.30 Wita dan surut pada pukul 09.30 Wita dan estimasi air pasang tertinggi akan terjadi pada hari Rabu yang dimulai pada pukul 08.30 Wita yang menempuh waktu empat jam mencapai pasang tertinggi.

“Sehingga diperkirakan akan surut pada pukul 12.30 Wita. Saat itu lah moment perpisahan bulan terjadi,” jelasnya.

Dengan adanya kondisinya tersebut, kata ustadz Lukman Albakti, sehingga mewajibkan bagi orang yang beriman  untuk tidak berpuasa pada saat awal Syawal sudah masuk. Oleh karena perpisahan bulan Ramadannya masuk 1 Syawal pada Rabu di siang hari.

“Nah karena 1 Syawalnya masuk pada Rabu siang, sehingga khutbah Idul Fitri 1 Syawal tidak dapat ditunaikan. Makanya kita akan laksanakan salat Ied pada Kamis 14 Juni besok,” kata ustadz Lukman Albakti. (saribulan)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...