Nggak Apa-apa, Ada Jambret Langsung Tembak di Tempat

Rabu, 20 Juni 2018 - 09:14 WIB

FAJAR.CO.ID, BALIKPAPAN  –  Aksi jambret yang marak di Kota Minyak membuat resah masyarakat. Apalagi, pelakunya tak segan melukai korban. Dari sejumlah kasus jambret, baru satu pelaku yang berhasil dibekuk dan sempat dihadiahi massa dengan bogem mentah.

Dia adalah Adi Saputra (28), yang babak belur setelah gagal kabur usai merampas tas Rohani (39) di kawasan Tugu Adipura, Gunung Kawi, Minggu (17/6) dini hari.  Adi merupakan penjahat kambuhan alias residivis. Maraknya kasus jambret itu membuat jajaran Polres Balikpapan siaga.

“Jangan segan untuk tembak di tempat. Itu sudah diperintahkan secara tegas oleh kapolres,” tandas Kasat Reskrim Polres Balikpapan, AKP Makhfud Hidayat.

Menurutnya, para pelaku pencurian dengan kekerasan memang menjadi perhatian utama pihaknya. Selain pengawasan melalui giat patroli, polres juga mengerahkan tim antibandit.

“Curas, curat, dan curanmor tetap menjadi perhatian kami. Demi memberikan rasa nyaman kepada masyarakat,” ujarnya.

Sementara itu, ahli psikologi Rachmawati mengungkapkan, penjahat yang keluar dari penjara kemudian mengulangi tindakan kriminalnya alias residivis merupakan bukti proses pembinaan yang dilakukan selama di rumah tahanan (rutan) maupun lembaga pemasyarakatan (lapas) belum maksimal. Para penjahat kambuhan itu tidak dapat memahami hukuman yang dijatuhkan merupakan upaya untuk memperbaiki diri.

“Pemilihan program yang kurang tepat dapat mengakibatkan kurang adanya efek jera atau pengaruh positif,” imbuh Rachmawati.

Lanjut dia menjelaskan, menentukan program yang tepat berguna untuk memulihkan dan memperbaiki sisi mental narapidana. Sehingga, saat terjun ke masyarakat bisa mengubah paradigma berpikir bila mantan narapidana, bukan sebagai sampah masyarakat.

“Mereka harus memiliki konsep positif, sehingga percaya diri dalam lingkungan masyarakat. Dengan kata lain bisa berperilaku positif. Karena selama ini, karakter mantan narapidana yang melekat tentu sulit untuk mengubah dirinya sendiri,” papar dia.

“Minim keterampilan juga membuat terjerumus lagi. Di samping adanya kesempatan untuk melakukan hal itu dengan pengaruh orang lain,” sambungnya.

Persoalan kebutuhan mendesak, diakuinya memang ada. Tapi itu sangat minim. Tentu perubahan psikologi pasca terbebas dari penjara, utamanya harus dilakukan oleh diri sendiri. “Terutama lingkungan tempat tinggal,” ujarnya. (ham/yud/k1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.