COPS Temukan Banyak Lembaga Survey di Pilgub Jabar Tak Jujur

0 Komentar

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Tersisa empat hari lagi, warga Jawa Barat (Jabar) dan 170 daerah lainnya di Indonesia akan melangsungkan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) secara serentak pada, Rabu (27/6).

Sebelum berlangsungnya pemilihan, beberapa lembaga survey telah merilis hasil surveynya sejak masa kampanye beberapa waktu lalu. Namun, hasil survey-survey tersebut diketahui tidak sesuai dengan kenyataan di lapangan. Hal itu terlihat dengan hasil jejak pendapat yang dilakukan oleh Lembaga survei Center Opinion Public Survey (COPS) terhadap empat pasangan calon Gubernur-Wakil Gubernur Jawa Barat.

Direktur COPS, Ziyad Falahi menegaskan, dari sample 1225 masyarakat Jawa Barat, sebanyak 85,7 persen sudah mengetahui adanya Pemilihan Gubernur -Wakil Gubernur Jawa Barat pada tanggal 27 Juni 2018. Survei itu sendiri digelar dari 12 sampai 22 Juni 2018 lalu.

“Dari 1225 orang masyarakat Jawa Barat menyatakan baru 67,8 persen yang baru mendapatkan undangan Ke TPS untuk memberikan suaranya pada Pilkada Jawa Barat 2018,” ucap Ziyad dalam pesan singkatnya kepada wartawan, Sabtu (23/6).

Sedangkan, sebanyak 80,7 persen mengharapkan Gubernur Dan Wakil Gubernur Jawa Barat bisa lebih memberikan kemajuan ekonomi bagi masyarakat. “Sebanyak 55,4 persen mengetahui keempat Paslon (pasangan calon) tersebut dan 44.6 persen tidak tahu sama sekali. Ini artinya menjawab kalau ada ketidakjujuran dari berbagai lembaga survei yang menempatkan keempat Paslon memiliki popularitas di atas 60 persen,” bebernya.

Dikatakan Ziyad,  sebanyak 55,4 persen masyarakat Jawa Barat mengetahui nama dan nomor empat Paslon Gubenur-Wakil Gubernur Jawa Barat dan terlihat lebih dominan memilih pasangan  Sudrajat- Ahmad Syaiku (Asyik). “Dari survei sebanyak 32.7 persen memilih Sudrajat- Ahmad Syaiku dengan alasan Sudrajat tegas, jujur,pintar, punya kemampuan aan asli Sunda . Dan diurutan kedua sebanyak 24.7 persen memilih pasangan Deddy Mizwar- Dedi Mulyadi dengan alasan Deddy Mizwar-  dikenal sering muncul di sinetron dan Deddy Mulyadi karena satu satunya tokoh yang banyak mengembangkan ajaran Sunda Wiwitan,” ungkapnya.

Sedangkan, pasangan TB Hasanuddin – Anton Charliyan dipilih sebanyak 20.8 persen dengan alasan Kepala Daerah yang di Usung PDI- Perjuangan yang menjadi partai yang mendukung Ahok alias Basuki Tjahaya Purnama pada Pilgub DKI Jakarta yang dipenjara akibat menista agama Islam

Dan Pasangan Ridwan Kamil – UU Ruzhanul Ulum dipilih sebanyak 17,9 persen. Jatuhnya elektabilitas Ridwan – UU karena diduga terlibat kasus korupsi BCCF dan yang tidak memilih 3.9 persen. (Aiy/Fajar)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...