Begini Fakta-fakta Baru Kematian Yusuf, Wartawan yang Meninggal di Penjara

0 Komentar

FAJAR.CO.ID- Kematian M Yusuf, wartawan yang meninggal di penjara masih menyimpan fakta-fakta mengejutkan. Hasil Outopsi Jumat (29/6), yang dilakukan memunculkan hal-hal lain.

Autopsi dilakukan di Pemakaman Muslim Desa Hilir Muara. Sekitar 3 Km dari pusat kota. Berlangsung sejak pukul 08.00 hingga 12.00 Wita. Proses itu dilakukan dua dokter ahli forensik Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Banjarmasin. Dan disaksikan dua dokter forensik Unhas Makassar.

Saat autopsi berlangsung, tampak aparat kepolisian berjaga di dalam dan luar area makam. Hadir juga keluarga besar Yusuf dan tim pengacara.

Jelang pukul 12.00 Wita, keluar tiga orang dokter dari area makama yang ditutupi dengan tenda besar. Sesi jumpa pers pun digelar.

Dr Iwan Alflanie dari ULM Banjarmasin menjelaskan, berdasarkan hasil autopsi sementara, tak ditemukan tanda kekerasan.

Soal lebam pada jenazah, Iwan menjelaskan, sesuai dengan hasil visum bahwa itu adalah lebam mayat. Artinya timbul setelah meninggal, bukan memar.

Saat jumpa pers belangsung, tim bedah yang mendampingi dr Iwan dan dr Nila Nirmalasari masih di makam Yusuf mengambil beberapa organ penting. Seperti jaringan otot, jantung, otak, hati, limpa, dan paru. Untuk dibawa di Lab Forensik, kemudian diperiksa lebih jauh.

Mengapa begitu? Iwan kembali menjelaskan. Menurutnya, semua itu untuk keperluan analisa. Apakah kematian Yusuf wajar atau tidak. Tim forensik perlu mendalami. Termasuk juga memastikan ada atau tidaknya racun dalam tubuh jenazah.

Ditanya berapa lama proses lanjutan, Iwan tak bisa memastikan. Namun dia menambahkan, kondisi organ Yusuf sudah mulai membusuk. Sehingga agak menyulitkan analisis forensik.

Sementara itu, ahli forensik dari tim pengacara dr Annisa Anwar Muthaher dan rekannya dr Tjiang Sari Lestari menyampaikan apresiasi kepada Polres Kotabaru. Yang memberikan mereka keleluasaan memantau jalannya autopsi. “Kami diizinkan masuk tanpa ada batasan-batasan,” katanya. Ahli forensik Unhas Makassar itu sengaja didatangkan sebagai tim independen oleh pengacara.

Senada dengan Iwan, Annisa mengatakan sejauh ini memang belum ditemukan ada tanda kekerasan pada fisik Yusuf. Namun dia sepakat bahwa masih perlu dilakukan uji laboratorium untuk verifikasi autopsi lapangan.

Annisa menyebut, autopsi di lapangan sudah memenuhi unsur baik pemeriksaan luar, dalam dan penunjang. yang dia maksud adalah pengamatan kondisi jenazah melalui alat-alat modern zaman sekarang. Dirinya juga membenarkan jika dr Iwan mengambil beberapa organ untuk dikirim ke laboratorium.

Mengenai kondisi organ yang sudah membusuk, karena proses autopsi baru dilakukan kemarin, Ketua Tim Pengacara Yusuf, Ery Setya Negara mengakui bahwa itu adalah hasil kesepakatan tim mereka. Alasannya jika dilaksanakan cepat, saat itu jelang lebaran dan keluarga masih dalam suasana duka. “Dan kebetulan kami juga sudah ada tiket pulang semua waktu itu. Jadi dengan kesepakatan dari kami tim lawyer dan kapolres untuk bisa dilaksanakan hari ini,” kata Ery.

Apakah pengacara tak mempertimbangkan kondisi organ yang membusuk? Ery menegaskan, pihaknya harus mempercayai dulu kerja tim autopsi. Dia juga sengaja membawa tim forensik dari Unhas Makassar agar berimbang. “Supaya jangan ada lagi lah berita-berita yang nanti mencurigai simpang siur dan sebagainya,” sebutnya

Proses autopsi itu dihadiri keluarga besar Yusuf. Juga terlihat Dirkrimum Polda Kalsel Kombes Pol Sofyan Hidayat, Kapolres Kotabaru AKBP Suhasto, perwakilan Kodim 1004 Kotabaru.

Mengingatkan, Yusuf meninggal pada Minggu 10 Juni tadi. Sebelum kematiannya, dia dikabarkan mengeluh sakit dada dan muntah pada pukul 14.00. Saat itu, Yusuf berada di dalam sel Lapas Kotabaru, sekitar 400 meter dari RSUD Kotabaru.

Petugas Lapas kemudian segera membawa Yusuf ke RSUD. Masuk ke ruang IGD. Namun pukul 14.30 Wita dia dinyatakan meninggal.

Sebelum meninggal, Arvaidah, istri almarhum mengaku berkomunikasi melalui pesan singkat dengan suaminya itu. Sejak pukul 12.00 siang sampai sekitar pukul 14.00 Wita. Yusuf menulis di sms katanya, menanyakan kabar anak-anak. Meminta antarkan obat dan baju untuk hari raya nanti.

Setengah jam kemudian, Arvaidah diminta ke rumah sakit. Lantaran sang suami dikabarkan sakit dan dirawat. Dia tiba sekitar pukul 14.30 Wita. tapi sayang, Yusuf sudah dinyatan meninggal dunia. “Saya tanya, itu kenapa dibungkus (kain),” kata Arvaidah.

Arvaidah mengakui. Suaminya itu memang sakit sakitan. Masalah jantung sudah diidap sekitar tujuh tahun lalu. Juga ada penyakit lambung kronis serta pernah kena stroke ringan.

Dengan riwayat itu, menurut Arvaidah dia berkali-kali ajukan penangguhan penahanan. Tapi selalu ditolak kejaksaan. Alasannya, karena izin dari pengadilan hanya berobat sehari.

Dia menambahkan, sudah pernah konsultasi dengan dokter spesialis. Yusuf harus dirawat intensif karena penyakit yang dideritanya. Menurut sang istri, akibat biasa minum-minum dan obat ketika muda. Tapi sudah berhenti sejak tiga tahun lalu.

Seperti diketahui, sebelum meninggal Yusuf diamankan Polres pada 5 April 2018. Dia diduga melakukan tindak pidana UU ITE atas laporan perusahaan kebun PT Multi Sarana Agro Mandiri (MSAM). Kasusnya dilimpahkan ke kejaksaan pada 8 Mei. Sejak itu dia dipindahkan ke Lapas Kotabaru.

Pengamanan terhadap Yusuf dilakukan setelah berkali-kali mangkir dari pemanggilan pemeriksaan.

Kembali pada proses autopsi. Arvaidah terlihat menangis. Kepada Radar Banjarmasin dia mengaku pernah dua kali mimpi suaminya itu.

Dalam mimpinya, Yusuf datang bertelanjang dada. Tersenyum tapi menangis. “Tidak tahu apa artinya itu,” ujarnya.

Tak ada kata-kata diucapkan Yusuf dalam mimpi itu. Selain dia, adik kandung Yusuf, Rahmad katanya juga pernah mimpi yang sama.

Bagaimana sikap keluarga? Dia mengaku ikut saja dengan keputusan tim pengacara. Berharap autopsi bisa membuat terang penyebab kematian suami.

Ditanya soal keluarga yang sempat tak mengizinkan autopsi, Arvaidah mengaku kendala itu sudah selesai. Setelah Kapolsek Pulau Laut Tengah Iptu Pato berkomunikasi dengan keluarga.

Di depan Arvaidah, Pato membenarkan. Dia memberikan masukan kepada keluarga Yusuf di Sulawesi. Bahwa autopsi penting untuk membuat terang apa yang terjadi. “Tapi sebenarnya yang penting itu keluarga dekat, yaitu istri,” ujarnya.

Terlihat Dirkrimum Polda Kalsel Kombes Pol Sofyan Hidayat dan Kapolres Kotabaru AKBP Suhasto menyalami Arvaidah dan keluarga lainnya. Sofyan meminta keluarga sabar menghadapi. (zal/gr/nur)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

0 Komentar