Rupiah Terpuruk Tembus Rp 14.409, Ini Penyebabnya

FAJAR.CO.ID, JAKARTA - Faktor eksternal seperti perang dagang AS-China, disebut-sebut menjadi faktor rupiah tertekan. Langkah Bank Indonesia (BI) yang menaikan suku bunga acuan  menjadi 5,25 persen, pada pada Jumat lalu (29/6) rupanya belum dapat mendongkrak nilai tukar mata uang garuda.

Berdasarkan situs resmi Bank Indonesia (BI), Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau Jisdor, kurs tengah rupiah pada Jumat (6/7) sudah mencapai Rp 14.409 per dollar. Dengan posisi jual Rp 14.481 dan beli Rp 14.337.

"Faktor utama pelemahan rupiah tentu gejolak eksternal, yakni perang dagang AS-China dan kebijakan The Fed yang cenderung terus menaikan tingkat suku bunga," ujar Direktur Lembaga Management  Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, Toto Pranoto, Jumat (6/7).

Hal tersebut menurutnya membuat permintaan akan dollar meningkat (over demand).  Sehingga posisinya terus menguat dan rupiah terus menurun.

"Intervensi BI dengan meningkatkan suku bunga acuan keliatannya belum cukup efektif dalam mengerem laju depresiasi Rupiah," pungkas Toto.

Sementara,  Pengamat Ekonomi dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef)  Bhima Yudhistira bahkan memprediksi rupiah akan melemah hingga 14.700 pada akhir Juli. Menurutnya, posisi Indonesia dirugikan akibat perang dagang,  karena berada di bawah global supply chain sebagai negara pemasok bahan baku AS dan China.

"Jika volume perdagangan dunia turun, imbasnya permintaan batubara, sawit, hingga karet akan anjlok. Belum ada perang dagang saja, dalam lima bulan terakhir ada empat  kali defisit perdagangan. Apalagi paska 6 Juli 2018 (dimulainya perang dagang AS-China), defisit perdagangan kita akan makin bengkak," jelas Bhima, Jumat (6/7).

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID
Editor : Sonny Wakhyono


Comment

Loading...