Rupiah Terpuruk Tembus Rp 14.409, Ini Penyebabnya


Bhima mengatakan, ada kaitan erat antara melemahnya ekspor dengan permintaan rupiah yang anjlok. Sementara dampak lain adalah Indonesia jadi target barang impor China.”Banjir impor membuat permintaan valas trutama dolar naik signfikan,” jelasnya.Selain perang dagang, melemahnya rupiah menurut Bhima karena spekulasi terkait hasil rapat The Fed pada tanggal 31 Juli sampai 1 Agustus 2018.”Jika melihat data-data ekonomi AS yang terus membaik sangat mungkin Fed akan kembali naikan bunga acuan 2 kali lagi tahun ini. Efeknya dana asing dari Indonesia kembali keluar mencari aset yang lebih aman,” ujarnya.Untuk meredam gejolak rupiah tentu ada solusinya. Menurut Bhima, permintaan rupiah berkaitan erat dengan lonjakan impor. Selain industri yang butuh bahan baku impor, penyebab impor bengkak adalah proyek infrastruktur yang sedang dikerjakan BUMN.”Indikasinya impor mesin dan mekanik tumbuh 31,9 persen year on year (yoy) selama Januari-Mei 2018. Impor mesin dan peralatan listrik naik 28,16 persen (yoy) dan besi baja 39 persen (yoy),” jelas Bhima.Menurutnya, kalau mau mengurangi impor, kewajiban Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) proyek infrastruktur disarankan jadi 60-70 persen. Komitmen BUMN penting agar defisit perdagangan mengecil sehingga permintaan valas turun.”Kalau impor BUMN nya diatur saya kira sudah cukup signifikan menguatkan rupiah. Atur impor BUMN dulu baru evaluasi impor swasta,” ujar Bhima.

Komentar

Loading...