Survei BPS: Rokok Bikin Orang Miskin

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Sumatera Barat belum terbebas dari angka kemiskinan. Bahkan penyebabnya didorong oleh beberapa indikator. Dari survei yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS) setempat, rokok dinyatakan sebagai penyumpang kedua angka kemiskinan.

Dari data BPS komoditas rokok kretek filter menjadi peringkat kedua sebagai penyumbang garis kemiskinan 2018. Sedikitnya ada 13,16 persen garis kemiskinan di perkotaan disebabkan rokok.

Sementara peringkat pertama, kemiskinan dipicu beras di angka 20,1 persen. Kondisi ini, nyaris sama di pedesaan. Dengan kata lain, rokok dan beras sama-sama di posisi atas penyumbang kemiskinan.

“Dari semua pengeluaran, paling banyak dibelikan warga untuk rokok dan beras. Setelah itu, masuk cabai merah,” kata Kepala BPS Sumbar Sukardi di Padang, Senin (16/7).

Untuk diketahui, kemiskinan di perkotaan dipicu oleh tingginya harga beberapa komoditas. Di antaranya telur ayam ras, tongkol, daging ayam ras, roti, gula pasir, bawang merah, dan kue kering. Kondisi itu tidak jauh berbeda dengan di perdesaan. Hanya saja ada komoditas tambahan yang menyebabkan meningkatnya pengeluaran mereka, yakni kelapa.

“Beras kebutuhan pokok. Orang miskin yang penting kenyang. Nasi sumber energi, sementara telur daging sumber protein. Nah rokok yang perlu menjadi perhatian,” ujar Sukardi.

Dia menilai, pemerintah seharusnya lebih gencar memberi edukasi efek negatif dari rokok. Ditinjau dari hasil survei, porsi rokok dalam belanja rumah tangga menempati urutan kedua di atas komoditas pangan lainnya.

Menurutnya, porsi rokok lebih baik dialihkan untuk belanja kebutuhan pokok lain termasuk sumber protein pangan. “Kasihan kalau dia ngerokok, anaknya kasih telur sedikit,” katanya.

Dari survei terakhir, BPS Sumbar mencatat jumlah penduduk miskin di Ranah Minang mengalami penurunan. Pada September 2017, warga miskin mencapai 359.990 ribu orang (6,75 persen) dari total penduduk.

Untuk diketahui, penyebutan penduduk miskin mengacu pada ketetapan Garis Kemiskinan (GK) yang berbeda-beda di setiap provinsi di Indonesia. Untuk Sumbar, Garis Kemiskinan (September 2017) ditetapkan di angka Rp 455.797 per kapita per bulan. Artinya, penduduk dengan pengeluaran per kapita per bulannya di bawah angka Rp 455.797, maka diketagorikan sebagai penduduk miskin. (rcc/JPC)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID
Editor : Sonny Wakhyono

Comment

Loading...