Parpol Kesulitan Bujuk Perempuan Ikut Nyaleg

Jumat, 20 Juli 2018 - 03:19 WIB

FAJAR.CO.ID, TARAKAN – Keterlibatan kaum perempuan dalam pelaksanaan pemilihan calon legislatif, ternyata hanya sebatas memenuhi syarat. Hal tersebut menjadi keluhan bagi setiap parpol, karena harus berupaya sendiri untuk membujuk perempuan agar mau menjadi caleg di parpolnya masing-masing.

Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Amanat Nasional (PAN) Kota Tarakan, Khaeruddin Arief Hidayat mengatakan bahwa meski sudah berupaya untuk memasukkan 30 persen perempuan menjadi caleg, namun jika duduk di legislatif nanti, jumlah perempuan dipastikannya masih sedikit.

“Banyak perempuan yang ada hanya untuk melengkapi 30 persen syarat itu, karena memang dasarnya itu hanya ada sedikit perempuan yang minat di politik,” tegasnya.

Jika kaum perempuan masuk dan berupaya menduduki legislatif, Arief menuturkan bahwa cara perempuan beda dengan laki-laki. Sehingga kehadiran perempuan di seluruh parpol kebanyakan hanya sebagai pelengkap saja.

Nah, untuk merekrut 30 persen keterwakilan perempuan di PAN, Arief menuturkan bahwa pihaknya memberikan pengertian kepada setiap perempuan bahwa menjadi salah satu caleg, merupakan upaya parpol untuk menang.

“Berapa pun perolehan suaranya nanti, intinya PAN harus bekerja. Kami juga harus mendukung perempuan dari segi alat peraga, sehingga jika terbatas keuangannya, kami akan mendukung karena PAN memberikan sedikit amunisi untuk perempuan,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua DPD Partai NasDem Kota Tarakan, Mustain mengatakan bahwa minat perempuan masih minim terhadap politik, sehingga pihaknya perlu memohon kepada perempuan agar dapat memenuhi 30 persen keterwakilan perempuan.

“Sehingga partailah yang harus memohon, supaya gendre (perempuan) itu harus masuk. Ya itu memang ada yang seperti itu,” katanya.

Kendati demikian, ia mensyukuri Partai NasDem memiliki satu keterwakilan di legislatif, dan sudah memenuhi 30 persen keterwakilan perempuan.

“Kalau kami sudah tidak ada masalah, karena sudah mendudukan satu perempuan di legislatif. Tapi pada dasarnya perempuan itu sulit untuk direkrut, karena minat perempuan sangat minim,” katanya.

Untuk itu, dalam perekrutannya, Mustain mengaku sulit bahkan harus menjemput bola ke lapangan secara langsung, sebab kader perempuan NasDem sendiri sudah tidak berminat.

“Mungkin karena Tarakan kecil, tidak seperti daerah lain yang punya penduduk banyak,” ucapnya.

Berbeda dari PAN dan Nasdem, Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Demokrat Kota Tarakan, Herman Hamid menuturkan bahwa pihaknya tidak mengalami kendala untuk merekrut perempuan, sebab dari awal pihaknya sudah mempersiapkan kader perempuannya.

“Posisi keterwakilan perempuan sudah kami penuhi, bahkan ada beberapa yang menjadi cadangan,” bebernya.

Herman menjelaskan, pada masing-masing dapil, Partai Demokrat sudah menyediakan satu sampai dua figur perempuan cadangan yang akan menjadi caleg. Hal tersebut dilakukan guna mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan saat berada di KPU nanti.

“Tidak ada masalah, sejauh ini lancar saja. Kalau tawaran khusus tidak ada, tapi kami lebih memudahkan mereka, karena perempuan butuh didampingi,” pungkasnya. (*/shy/udn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.