Khofifah Bukti Kebangkitan Perempuan Dalam Politik Bangsa

0 Komentar

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Peran perempuan dalam politik bangsa saat ini tak bisa dianggap sepeleh. Saat ini perempuan sudah menunjukan posisi dan daya kekuatannya dan ini menjadi penyemangat dalam membangun bangsa ke depan. Perempuan kini menjadi aktor aktor utama dalam perpolitikan bangsa saat ini, baik di Partai Politik maupun Pemerintahan.

Kebangkitan para perempuan dalam bidang politik di era millenial ini cukup fenomenal, dan mewarnai jalannya roda pemerintahan. Pengamat politik dari Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Airlangga Pribadi Kusman menilai, perempuan saat ini perannya sangat signifikan. Arus utama politik dengan kesadaran patriarkhinya selama ini hanya dianggap sebagai sub ordinat atau unsur pendukung,  kini justru menjadi peran utama sebagai pengambil kebijakan di pemerintahan.

“Istilah kekiniannya The Power of Emak-Emak. Ini bukan hanya sekedar tampilnya perempuan tapi kebangkitan perempuan. Perempuan menggugat realitas hard politics (politik yang keras), penuh dengan money politics,  dan manuver oligarkhi menjadi kemampuan determinasi yang kuat untuk memastikan kebijakan publik mengabdi bagi kepentingan rakyat banyak” kata CEO The Initiative itu, dalam dialog bertema The Power of Emak-Emak: Srikandi-Srikandi di Lingkaran Istana di Diskusi Kopi, Minggu (22/7).

Airlangga Pribadi melanjutkan, The Iniatiative Institute melihat dan mengamati ada empat tokoh perempuan yang kiprahnya sangat mewarnai dalam kehidupan politik.  Kiprah mereka juga selalu menyedot perhatian dan menjadi konsumsi berita publik. Mereka itu adalah Khofifah Indar Parawansa (Gubernur Jatim dan mantan Menteri Sosial), Retno Marsudi (Menteri Luar Negeri), Susi Pudjiastuti  (Menteri Kelautan dan Perikanan) serta Sri Mulyani Indrawati (Menteri Keuangan).

“Keempat figur ini sudah terbukti kapabilitas dan pengaruhnya dalam dunia politik. Namun Khofifah punya nilai plus, karena memiliki basis massa,” ucap Direktur Initiative Institute tersebut.

Satu hal yang perlu dipertimbangkan menurut Airlangga Pribadi, bahwa Muslimat NU Ormas dibawah pimpinan Khofifah Indar Parawansa telah berhasil menyumbangkan 5 kepala daerah dalam Pilkada Serentak. Oleh karena itu, ke depan bukan saja peran perempuan akan lebih besar dalam politik, namun juga agenda dan aspirasi kaum perempuan seperti dalam bidang pekerjaan,  cuti melahirkan yang lebih lama serta pemberdayaan ekonomi berbasis peran ibu-ibu harus lebih dikedepankan.

“Agenda politik lain yang patut untuk dikedepankan adalah perempuan dengan bukti kinerjanya yang lebih baik harus memiliki peran yang lebih luas.  Baik sebagai calon wakil presiden,  kuota perempuan dan anak muda 50% di kementrian mendatang dan pemajuan peran perempuan didalam politik lokal,” pungkasnya.

Bersamaan dengan itu, Direktur Eksekutif Indo Barometer M. Qodari menuturkan, salah satu keberhasilan Khofifah di Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jawa Timur adalah keliahaiannya dalam berorganisasi. Selain berorganisasi, Khofifah juga menjadi salah satu tokoh perempuan yang mampu beretorika dengan baik, serta memiliki stamina yang baik.

“Menjadi politik handal itu harus senang berorganisasi. Contohnya Khofifah yang suka berorganisasi, dia mengikuti organisasi sejak usia 17 tahun. Dia juga memiliki retorika yang bagus dan didukung dengan stamuna yang baik pula. Hal-hal ini menjadi faktor dukungan buat perempuan-perempuan Indonesia yang mau bergabung dalam politik bangsa. Wawasan akademik juga menjadi faktor dukungantak, tapi yang harus dibutuhkan adalah senang berorganisasi, itu yang saya lihat dari beberapa tokoh besar bangsa, dan contoh lain juga ada pada Eni Saragih yang pernah aktif di KNPI Pusat,” kata Qodari.

Lanjut Qodari, kehadiran perempuan dalam politik bangsa juga menjadi stamina baru bagi kemajuan politik di negara ini, karena militansi perempuan dalam perjuangan hak-hak rakyat tak perlu diragukan.

“Jadi ada beberapa perbedaan, perempuan kalau berpolitik maka militansi mereka luar biasa. Apalagi awalnya seorang perempuan terjun dalam dunia aktifis, maka masukannya untuk memecahkan masalah sangat luar biasa dan contohnya itu adalah Khofifah. Perempuan dasarnya memiliki pontensien, yang sangat dekat dengan rakyat karena pendekatannya lebih dengan hati,” jelasnya.

Politisi Perempuan Miliki Nilai Tambah

Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Irene Hiraswari Gayatri mengatakan, kemunculan perempuan sebagai Calon Kepala Daerah dan Calon Anggota Legislatif bukanlah hal baru. Pasca tergusurnya Orde Baru, peran perempuan dalam politik dan Pemerintahan mulai terlihat, meski dibatasi dengan kuota 30 persen suara perempuan di Parlemen. Seperti di periode 2009-2014, perwakilan perempuan di Parlemen sebanyak 100 orang, dan di periode 2014-2019 sedikit menurun, tapi peran perempuan sangat terluhat dalam memperjuangkan kepentingan-kepentingan bangsa.

“Perempuan di politik bukan lagi barang baru, di periode 2009-2014 sebanyak 100 orang, meski di periode berikutnya menurun, tapi tidak begitu signifikan. Di periode 2014-2019 berjumlah 97 orang dimana sebelumnya perempuan sangat dibatasi saat Orde Baru,” ujar Irene.

“Kita punya Menteri Luar Negeri (Menlu), Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pujiastuti, Gubernur Jatim terpilih Khofifah Indar Parawansag. Mereka profesional di bidangnya masing-masing meski dari partai politik. Jadi, keuntungan partai politik merekrut perempuan yang memiliki nilai tambah dibandingkan dengan laki-laki,” tutupnya. (Aiy/Fajar)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...