Survei Median: Politik Identitas Masih Kuat Jelang Pilpres

0 Komentar

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Politik indentitas masih sangat kuat menjelang Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 nanti. Hal itu sebagaimana hasil survei yang dilakukan oleh Media Survei Nasional (Median) yang digelar pada 6 Juli sampai 15 Juli tahun ini.

Direktur Riset Median, Sudarto mengatakan, kebanyakan masyarakat Indonesia lebih suka urusan politik tidak dipisahkan dengan urusan agama. Yang mana sebanyak 43,8 persen responden menjadikan agama sebagai identitas paling kuat dalam berpolitik. Suku 23.4 persen, identitas nasional, 22.1 persen, identitas regional 9.3 persen dan identitas lainnya, 1.5 persen.

“Jadi orang itu lebih suka disebut sebagai orang Islam misalkan, ketimbang sebagai orang Jawa, atau orang Indonesia. Makanya identitas agama wajib diperhatikan oleh capres-capres yang akan bertarung pada pemilihan presiden, jika ingin meraih suara dari publik,” jelasnya dalam konferensi pers di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Senin (23/7).

Lebih lanjut kata dia, dari survei yang melibatkan lebih dari seribu responden ini, hanya sebanyak 33.9 persen yang ingin politik identitas dipisah dari urusan politik dan 22.8 persen belum menentukan pilihan.

Ditegaskannya politik identitas merupakan ancaman serius bagi calon petaha, Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) sebab, masyarakat masih menilai dia kurang ramah dengan kalangan agama Islam. Makanya penting bagi Jokowi untuk memilih sosok cawapres dari kalangan agama Islam.

“Ini menjadi persoalan serius bagi Jokowi,” pungkasnya.

Survei ini melibatkan 1.200 responden dari seluruh Indonesia. Mereka dipilih dengan metode multistage random sampling secara proporsional atas populasi provinsi, dan gender. Adapun margin of error survei sebesar kurang lebih 2,9 persen dengan tingkat kepercayaan sebesar 95 persen. Quality control dilakukan terhadap 20 persen sampel yang ada. [fiq/rmol]

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...